Sabtu, 21 Oktober 2017

Kakang 3 Tahun, YEAY

OMG..

Kerasa banget waktu cepat berlalu. Perasaan kemarin dia masih nenen, masih merangkak-rangkak, sering jatoh saat belajar jalan, pernah sampai benjol 3 di kening. Huahahahahaha

Sekarang? Wuiiiih..

I'm so proud


Sabtu, 14 Oktober 2017

Modus Penipuan dengan E-Cash Mandiri Mengatasnamakan Grab



Malam itu di Sumedang. Suami mengaktifkan aplikasi Grab Drivernya. Ia memang menjadi driver ojek online untuk pekerjaan sampingan selain jadi karyawan sebuah perusahaan di Bandung.

Sebenernya di Sumedang masih amat jarang orang yang menggunakan Grab. Terkadang sehari cuma ada 1 penumpang. Kadang tak ada sama sekali. Padahal itu weekend, yang kalau dibandingkan Bandung pastilah sangat jomplang. Ya iyalah yaa
Hapenya berbunyi pertanda ada calon penumpang. Beberapa detik setelah ia terima, ada telepon masuk. Suami kira dari penumpang. Ternyata bukan.

"Mas, bisa telepon satu jam lagi gak ya? Saya baru nerima orderan nih.." begitu ucapan suami kepada sang penelepon.

Sepertinya sang penelepon menolak, sehingga suami lanjut mendengarkannya.
"Oh.. update terbaru ya? Hm.. begitu? terus..?"
Kalau saya nguping sih, sepertinya peneleponnya dari Grab.

Beberapa menit kemudian suami menghampiri saya,

"Mi, minta nomor rekening Mandirimu.."
Weits.. asik ada yang mau transfer! pikir saya.

"Bentar ya Mas, saya ga hapal nomor rekeningnya." sahut suami pada si penelepon. "Oh? Gak perlu ya? Gpp? Ya udah.."

Haaaa? Alarm di kepala saya berbunyi. Bagaimana cara orang mau transfer tanpa tahu nomor rekening tujuan? Saya langsung teringat modus penipuan menggunakan e-cash Mandiri. Sering banget baca cerita seperti itu. Dan.. oh iya, bukankah official Bank untuk Driver Grab adalah CIMB Niaga?

Lebih curiga lagi saat suami mulai  mengeluarkan motor dari dalam rumah.

"Mau kemana?" tanya saya.
"Ke ATM."
"Bisa ceritain dulu gak ini soal apa?"

Dia hanya mengedipkan mata sambil tersenyum. 
Telepon masih terhubung.
FIX.
Saya yakin 100% si penelepon sedang mengarahkan suami untuk transfer uang padanya.
Berhubung suami tampak terburu-buru, saya tidak sempat ngomong apapun kecuali, 
"Hati-hati.."
Satu-satunya yang membuat saya gak terlalu galau adalah..
Rekening Mandiri yang kartu ATMnya dipegang suami itu isinya KOSONG. Heuheu
Maklum udah lama gak dipake.

Menit demi menit berlalu. 
Waktu berjalan terasa amat lambat.
Kemudian turun hujan. 
Menambah suasana semakin gelap.

Bapak mertua menghubungi nomor suami berkali-kali, tidak diangkat.

Sekitar 10-15 menit kemudian suami kembali, kehujanan.

"Ternyata penipuan." begitu kalimat pertamanya.
"Tuh kaaan!" saya berseru. "Duit ada yang ilang?"
"Enggak.." jawabnya.

Kemudian ia ceritakan detailnya, bahwa si penelepon mengaku dari Grab. Katanya, untuk orderan yang suami confirm barusan, tidak apa-apa di-cancel. Tidak akan mempengaruhi performance

Dengan panjang lebar si penelepon menginfokan bahwa Grab memiliki program baru yaitu PayPro, dimana Grab akan memberikan bonus dari awal Driver bergabung sampai sekarang. Bonus ini harus diberikan per tanggal 30 (Saat itu tanggal 30 September). Kalau tidak, bonus akan hangus dan akun driver akan di suspend.

Ancaman suspend membuat suami terus mendengarkan apa yang penelepon katakan. Suami awalnya agak percaya. Namun saat akhirnya si penelepon mengarahkan untuk ke ATM, di situlah suami sadar bahwa ini tidak benar.

Meskipun begitu, suami penasaran dengan modus si penelepon. Suami mencoba mengiyakan semua instruksi, hingga pergi ke ATM. Di ATM, suami pura-pura melaksanakan instruksi si penelepon. Sengaja ia berkali-kali gagalkan transaksinya, yang membuat si penelepon marah-marah, “Yang bener dong Pak!”

Dari instruksi penelepon, suami jadi tahu tentang E-cash Mandiri, dimana kita bisa mentransfer uang ke nomor hape. Kalau saya googling sih, pemilik nomor hape bahkan tidak perlu memiliki rekening di Bank Mandiri untuk memanfaatkan E-Cash ini.

Long story short, suami kemudian menutup telepon dan menghubungi Grab pusat. Grab pusat mengonfirmasi bahwa itu adalah penipuan.

Si Penipu Gagal berusaha menghubungi lagi namun suami abaikan. Ia juga mengirim pesan berisi kata-kata kasar dan amarah. Bahkan mengancam akan memblokir Grab ID suami. Suami hanya tertawa dan mempersilakan penipu untuk memblokirnya.


---

Berat amat yak jadi ojek online (ojol).
Udahlah dijadikan target penipuan, eh sekarang ada kemungkinan dilarang beroperasi oleh Dishub Jabar.
Bagaimanapun, kami bersyukur Allah masih melindungi, dan semoga selalu melindungi.

Be careful, guys!

Sabtu, 23 September 2017

Blogwalking To DwiPuspita.com

Jalan-jalan di dunia maya kali ini bertujuan ke rumah maya seorang ibu muda yang berdomisili di ibu kota provinsi Jawa Timur. Blogger Surabaya ini bernama Dwi Puspita. Ia adalah ibu rumah tangga yang kesehariannya dipenuhi aktifitas mengasuh anak, mengurus rumah, ngeblog, hingga berkebun.


Tampilan blog DwiPuspita.com

Blog bertema Life Style ini memuat aneka topik yang diminatinya. Dari menu blognya, terlihat beberapa hal yang ia suka tulis adalah tentang kuliner, travelling, review, event, kucing, hotel, Surabaya, dapur, kehamilan, dan diet.

Buat saya, yang paling menyentuh adalah tentang pengalamannya menantikan sang buah hati. 2 tahun 9 bulan baginya sangat lama. Ia (dan suami) ikhtiar dengan beragam cara. Dalam postingan 9 dari 10 Perjalanan Program Kehamilanku Mbak Dwi menguraikan aneka bentuk ikhtiar, terutama makanan-makanan yang dikonsumsi selama program hamil (promil). Mulai dari konsumsi susu, madu, kurma muda, jamu, jeruk, kecambah, kacang-kacangan, brokoli, hingga salmon. Konsultasi medis, berdoa, dan bersedekah pun dilakukan.

Alhamdulillah penantiannya pun berakhir indah. Ia dan suami dikaruniai seorang anak laki-laki yang Desember 2017 nanti insya Allah akan menginjak usia 2 tahun. Semoga selalu sehat ya Dik Ayman sekeluarga. Aamiin :)

Saya suka beberapa tulisannya dalam kategori travelling terutama yang tentang Bali. Misalnya postingan Jalan-Jalan ke Pantai Pandawa Bali. Meski pernah ke Bali, tapi baru tahu tentang adanya Pantai Pandawa ya dari postingan ini. Saya mah tahunya Kuta dan Jimbaran doang. Heuheu

Dari postingan itu saya lanjutkan ke postingan tentang sewa motor di Bali. Siapa tahu kan kapan-kapan kalau keluarga kecil kami ke Bali, bisa jalan-jalan pakai motor juga yang tentunya akan lebih mudah kemana-mana, nyelap-nyelip di jalan, dan dengan budget yang pasti lebih terjangkau daripada nyewa mobil. Kalau mau ke Bali kudu nyempetin bongkar-bongkar blognya Mbak Dwi nih, mantap banget infonya. Kayaknya setiap tempat yang ia kunjungi dibuat postingan sendiri, jadi kita mudah mencari info dengan melihat dari judulnya.

Saya juga menemukan tulisan soal info penyewaan sepeda di Ubud. Eh tapi kalau bawa balita, masih bisa sepedaan gak ya? Ribet tar ngeboncengnya. Hihihi

Bukan cuma tempat wisata. Mbak Dwi juga suka menulis review tempat penginapan yang recommended, lengkap dengan detail foto-fotonya. Misalnya saat ia menulis tentang Siesta Legian Hotel (September 2016). Ia melampirkan foto arena bermain anak yang bikin saya mupeng pengen ke sana. Maklumlah emak-emak dengan balita. Tiap mau jalan-jalan pasti selalu ingin memastikan tempatnya ramah anak atau tidak.

Review kuliner juga banyak saya temukan, terutama di kawasan kota Surabaya. Saya suka dengan pilihan tempatnya yang cukup 'merakyat'. Hehehe

Tahu kan, biasanya orang banyak mereview restoran-restoran yang Instagramable yang harga makanannya selangit (menurut dompet saya). Tapi Mbak Dwi saya lihat justru banyak mereview kuliner skala menengah seperti bakso, terang bulan dan cwimie, juga inovasi kuliner dari UKM-UKM yang memang perlu didukung promosinya seperti Siomay Mercon dan Cake In Jar ZNI. 

Saya angkat jempol untuk Mbak Dwi yang tidak seperti saya rajin kulineran dan menuliskannya di blog. Memang idealnya blogger mengambil peran sebagai pendukung dan promotor UKM-UKM, sehingga para produsen makanan ini jadi terdorong penjualannya dan meningkatkan iklim usaha *halah bahasamu kok jadi berat Sin.

Yang mau bongkar-bongkar blognya, yuk ah cuss ke TKP ^^


Kamis, 21 September 2017

Harga? Inbox ya Cyin!

Di timeline saya lagi ramai soal 'haramnya' menjawab pertanyaan konsumen (tentang harga) via inbox FB.

Yah, sebenarnya kalau balik ke diri sendiri, apakah saya lebih suka orang lain memajang harga di status? Jawabannya adalah YA. Saya suka kalau orang yang jualan langsung pasang harga aja, sehingga dalam sekali baca bisa langsung saya putuskan apakah saya akan beli atau tidak, atau masuk wishlist. Ga pake kepo-kepoan.

Tapi berhubung saya juga menggunakan FB sebagai personal branding sebagai Mompreneur (yang jualan), saya sangat paham mengapa sebaiknya orang yang berminat beli produk dan ingin tanya-tanya lebih lanjut (termasuk harga) sebaiknya dilakukan via inbox.

Ini alasannya:

1. Facebook memiliki aturan tertulis tentang larangan menggunakan akun FB personal untuk jualan

Iya, Om Mark bilang akun FB tidak boleh untuk jualan. Karena itulah dia ciptakan Facebook Page (dikenal juga dengan istilah Fanpage atau FP) untuk kebutuhan komersil.

Kalau kita bandel dan tetap pasang harga di status, siap-siap aja kena hukuman. Apakah akun kita akan di-suspend atau akan diubah sekalian jadi FP, saya kurang tahu (dan saya ga mau mencobanya).

2. Menghindari Pelakor
Istilah ini lagi ngetrend juga nih. Makna sebenarnya Perebut Laki (suami) Orang. Tapi yang saya maksud di sini adalah Pengganggu Lapak Orang. Contoh kasusnya gini,

Misal saya pajang foto jualan saya yaitu mukena lucu bergambar jamur ini.

Product detail : IG @BajuKokoAnak


Kemudian di bagian komen ada Bunda Syahrini bertanya, "Untuk usia 7-9 tahun harganya berapa?
Kalau saya jawab di bagian komentar (bukan di inbox), "200 ribu bun," maka ada kemungkinan Pelakor melihat, lalu meng-inbox Bunda Syahrini dan bilang, "Mending di saya Bun belinya. Di saya mah jualnya 180 ribu aja. Mayan hemat 20 ribu dibanding beli di Sintamilia."

Ngeselin ga tuh?
Padahal 200 ribu itu harga retail resmi dari Produsen dan dengan harga segitu juga untung saya gak banyak #lahjadicurhat.


3. Supaya bisa ngobrol lebih bebas

Siapa tahu calon pembeli benar-benar tertarik dan selain mau tanya harga dia juga mau nanya bahan, asal pengiriman, ongkir dan lain-lain. Melalui inbox juga penjual bisa menjawab dengan lebih personal. Bisa ngobrol ngalor ngidul yang mana gak perlu lah se-antero FB bisa nyimak ngalor ngidulnya. Heuheu..

..dan tentu saja, melalui inbox calon pembeli dan penjual kadang bisa tawar-menawar harga yang pasti kecil kemungkinannya bisa dilakukan di ranah publik (di bawah status atau di kolom komentar).


Demikianlah 3 alasan mengapa penggelar lapak di FB personal senang mengajak calon pembeli untuk chatting via inbox. Mohon dimaklumi yaaa ^^

Saya seneng loh kalau ada yang minat produk saya dan bertanya-tanya. Saya sangat welcome dan gapapa banget meski calon pembeli nanya-nanya doang dulu. 

Bertanyalah Mak, karena BERTANYA itu GRATIS. Siiiip? ;)

Sabtu, 26 Agustus 2017

Inspiratif! Buku 30 Paspor Di Kelas Sang Profesor

Telat banget dah saya baca buku ini. Cetakan ke-4 tahun 2015, saya bacanya Agustus 2017. Mungkin mahasiswa yang ceritanya ada di buku ini udah pada lulus semua. Heuheu

Sumber gambar: Bentang Pustaka

Sungguh beruntung mereka yang diajar oleh Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. Beliau sangat paham bahwa metode belajar terbaik adalah dengan ‘terjun’ ke lapangan. 

Kalian harus nyasar biar belajar. Begitu salah satu nasehatnya. Maka di mata kuliah Pemasaran Internasional yang ia pegang, seluruh mahasiswa diberi tugas untuk pergi ke luar negeri sendirian. Negara yang dikunjungi tidak boleh berbahasa melayu seperti Malaysia, Singapura, Timor Leste dan Brunei Darussalam. Beneran disuruh nyasar ini mah. Hihihi..

---
“Ma, gimana kalau Abang atau Adek ditugasi dosennya untuk keluar negeri sendirian?” tanya saya pada Mama, meminta ia membayangkan kalau 2 adik termuda saya yang kini berstatus mahasiswa, harus melancong jauh.

“Wuaaaa.. nangis Mama,” jawabnya spontan :D

Xixixi, padahal adik-adik saya itu laki-laki loh. Coba bayangkan kalau anaknya perempuan, satu-satunya pula. Pasti lebih berat lagi.

Izin orangtua bisa jadi kendala bagi mahasiswa. Kendala lain misalnya saat pengurusan visa, mencari tiket dan penginapan, mengumpulkan biaya, dan tentu saja bahasa.

Membaca buku ini seperti membaca buku petualangan. Ditulis dengan sudut pandang orang pertama, saya jadi terbawa deg-degan, takut, penasaran, hingga haru.

Dari 30 pengalaman mahasiswa di buku ini, favorit saya adalah cerita Destiara Putri yang pergi ke Filipina. Gaya penulisannya runtut dan sinematis, sepertinya dia punya jam terbang yang tinggi dalam menulis *sotoy*. Hal spesial lainnya adalah di saat mahasiswa kebanyakan menginap di hotel, dia memilih nginap di rumah penduduk karena gratis. Ya, dia termasuk mahasiswa yang sebenarnya have no budget for travelling. Tapi dengan izin Allah serta dukungan keluarga, toh dia tetap bisa pergi juga bahkan mendapatkan keluarga baru di Filipina. 

Hal menarik lainnya adalah pengalaman Ananda Rafi yang pergi ke Dubai. Di pesawat dia duduk di dekat sepasang suami istri Arab, yang mana suaminya itu keberatan dengan adanya laki-laki asing yang duduk di dekat istrinya. Protektif sekali yak. Belakangan saya tahu bahwa kebanyakan orang Arab seperti itu. Wanita Arab juga tak nyaman duduk sebelahan dengan pria non muhrim di pesawat.

Pengalaman Aland di India juga menarik meskipun banyak gak enaknya. Tapi saya ga mau spoiler lagi deh, biar yang belum baca bisa cari sendiri bukunya yak.

Salut banget deh sama semuanya. Semoga suatu hari nanti bisa ke luar negeri juga. Tapi ogah kalau sendirian. Udah punya suami ya mesti bareng dong ;)