Kamis, 21 September 2017

Harga? Inbox ya Cyin!

Di timeline saya lagi ramai soal 'haramnya' menjawab pertanyaan konsumen (tentang harga) via inbox FB.

Yah, sebenarnya kalau balik ke diri sendiri, apakah saya lebih suka orang lain memajang harga di status? Jawabannya adalah YA. Saya suka kalau orang yang jualan langsung pasang harga aja, sehingga dalam sekali baca bisa langsung saya putuskan apakah saya akan beli atau tidak, atau masuk wishlist. Ga pake kepo-kepoan.

Tapi berhubung saya juga menggunakan FB sebagai personal branding sebagai Mompreneur (yang jualan), saya sangat paham mengapa sebaiknya orang yang berminat beli produk dan ingin tanya-tanya lebih lanjut (termasuk harga) sebaiknya dilakukan via inbox.

Ini alasannya:

1. Facebook memiliki aturan tertulis tentang larangan menggunakan akun FB personal untuk jualan

Iya, Om Mark bilang akun FB tidak boleh untuk jualan. Karena itulah dia ciptakan Facebook Page (dikenal juga dengan istilah Fanpage atau FP) untuk kebutuhan komersil.

Kalau kita bandel dan tetap pasang harga di status, siap-siap aja kena hukuman. Apakah akun kita akan di-suspend atau akan diubah sekalian jadi FP, saya kurang tahu (dan saya ga mau mencobanya).

2. Menghindari Pelakor
Istilah ini lagi ngetrend juga nih. Makna sebenarnya Perebut Laki (suami) Orang. Tapi yang saya maksud di sini adalah Pengganggu Lapak Orang. Contoh kasusnya gini,

Misal saya pajang foto jualan saya yaitu mukena lucu bergambar jamur ini.

Product detail : IG @BajuKokoAnak


Kemudian di bagian komen ada Bunda Syahrini bertanya, "Untuk usia 7-9 tahun harganya berapa?
Kalau saya jawab di bagian komentar (bukan di inbox), "200 ribu bun," maka ada kemungkinan Pelakor melihat, lalu meng-inbox Bunda Syahrini dan bilang, "Mending di saya Bun belinya. Di saya mah jualnya 180 ribu aja. Mayan hemat 20 ribu dibanding beli di Sintamilia."

Ngeselin ga tuh?
Padahal 200 ribu itu harga retail resmi dari Produsen dan dengan harga segitu juga untung saya gak banyak #lahjadicurhat.


3. Supaya bisa ngobrol lebih bebas

Siapa tahu calon pembeli benar-benar tertarik dan selain mau tanya harga dia juga mau nanya bahan, asal pengiriman, ongkir dan lain-lain. Melalui inbox juga penjual bisa menjawab dengan lebih personal. Bisa ngobrol ngalor ngidul yang mana gak perlu lah se-antero FB bisa nyimak ngalor ngidulnya. Heuheu..

..dan tentu saja, melalui inbox calon pembeli dan penjual kadang bisa tawar-menawar harga yang pasti kecil kemungkinannya bisa dilakukan di ranah publik (di bawah status atau di kolom komentar).


Demikianlah 3 alasan mengapa penggelar lapak di FB personal senang mengajak calon pembeli untuk chatting via inbox. Mohon dimaklumi yaaa ^^

Saya seneng loh kalau ada yang minat produk saya dan bertanya-tanya. Saya sangat welcome dan gapapa banget meski calon pembeli nanya-nanya doang dulu. 

Bertanyalah Mak, karena BERTANYA itu GRATIS. Siiiip? ;)

Sabtu, 26 Agustus 2017

Inspiratif! Buku 30 Paspor Di Kelas Sang Profesor

Telat banget dah saya baca buku ini. Cetakan ke-4 tahun 2015, saya bacanya Agustus 2017. Mungkin mahasiswa yang ceritanya ada di buku ini udah pada lulus semua. Heuheu

Sumber gambar: Bentang Pustaka

Sungguh beruntung mereka yang diajar oleh Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. Beliau sangat paham bahwa metode belajar terbaik adalah dengan ‘terjun’ ke lapangan. 

Kalian harus nyasar biar belajar. Begitu salah satu nasehatnya. Maka di mata kuliah Pemasaran Internasional yang ia pegang, seluruh mahasiswa diberi tugas untuk pergi ke luar negeri sendirian. Negara yang dikunjungi tidak boleh berbahasa melayu seperti Malaysia, Singapura, Timor Leste dan Brunei Darussalam. Beneran disuruh nyasar ini mah. Hihihi..

---
“Ma, gimana kalau Abang atau Adek ditugasi dosennya untuk keluar negeri sendirian?” tanya saya pada Mama, meminta ia membayangkan kalau 2 adik termuda saya yang kini berstatus mahasiswa, harus melancong jauh.

“Wuaaaa.. nangis Mama,” jawabnya spontan :D

Xixixi, padahal adik-adik saya itu laki-laki loh. Coba bayangkan kalau anaknya perempuan, satu-satunya pula. Pasti lebih berat lagi.

Izin orangtua bisa jadi kendala bagi mahasiswa. Kendala lain misalnya saat pengurusan visa, mencari tiket dan penginapan, mengumpulkan biaya, dan tentu saja bahasa.

Membaca buku ini seperti membaca buku petualangan. Ditulis dengan sudut pandang orang pertama, saya jadi terbawa deg-degan, takut, penasaran, hingga haru.

Dari 30 pengalaman mahasiswa di buku ini, favorit saya adalah cerita Destiara Putri yang pergi ke Filipina. Gaya penulisannya runtut dan sinematis, sepertinya dia punya jam terbang yang tinggi dalam menulis *sotoy*. Hal spesial lainnya adalah di saat mahasiswa kebanyakan menginap di hotel, dia memilih nginap di rumah penduduk karena gratis. Ya, dia termasuk mahasiswa yang sebenarnya have no budget for travelling. Tapi dengan izin Allah serta dukungan keluarga, toh dia tetap bisa pergi juga bahkan mendapatkan keluarga baru di Filipina. 

Hal menarik lainnya adalah pengalaman Ananda Rafi yang pergi ke Dubai. Di pesawat dia duduk di dekat sepasang suami istri Arab, yang mana suaminya itu keberatan dengan adanya laki-laki asing yang duduk di dekat istrinya. Protektif sekali yak. Belakangan saya tahu bahwa kebanyakan orang Arab seperti itu. Wanita Arab juga tak nyaman duduk sebelahan dengan pria non muhrim di pesawat.

Pengalaman Aland di India juga menarik meskipun banyak gak enaknya. Tapi saya ga mau spoiler lagi deh, biar yang belum baca bisa cari sendiri bukunya yak.

Salut banget deh sama semuanya. Semoga suatu hari nanti bisa ke luar negeri juga. Tapi ogah kalau sendirian. Udah punya suami ya mesti bareng dong ;)





Sabtu, 29 Juli 2017

Kakang 2 Tahun 9 Bulan : Perjuangan Mengurangi Screen Time

Kakang tuh dulu tiada hari tanpa youtube-an di HP saya.

Apaaaa? Batita udah dikasih main HP?

Ya, ya, saya tahu itu sebaiknya tidak dilakukan. Tapi gimana yah, bukankah itu yang paling mudah membuat anak tenang? *plak!

Tenang, saya bukan ibu yang membiarkan dia main HP berjam-jam sepuasnya kok. Kenapa? Ya karena HP saya cuma 1 dan saya perlu banget buat jualan online Sis. Jadi saya lumayan sering rebutan HP dengan Kakang dengan bilang, "Ummi pinjam dulu ya HP nya. Lihat nih ada yang mau beli bajuuu.."
kemudian Kakang nangis kejer sampai nenek kakeknya pada heboh, "Kakang kenapaaa..?"
Saya jawab aja santai, "Rebutan hape sama umminya.." heuheu

Saya biasanya memilih video yang menurut saya bagus dan edukatif untuk Kakang di Youtube, mendownloadnya, sehingga kalau Kakang ingin nonton langsung saja saya sodorkan list dalam album offline

Tapi itu dulu.

Sekarang jemari Kakang sudah terampil geser-geser, scroll-scroll, tak hanya memilih video di album offline tapi juga dia udah bisa nonton STREAMING.

OH NO!

Awal-awal sempat saya biarkan. Saya pikir, ah tar kalau habis kuota beli kartu perdana aja yang kuotanya (konon?) lebih murah.

Sampai suatu ketika saat tanggal tua (baca:bokek) kemudian kuota habis, saya pun baper. Gak bisa gini terus nih. Kalau kuota habis dan ga ada duit buat beli, kasihan dong para customer yang nyariin saya *aih

Akhirnya saya bertekad: Kakang harus berhenti nonton di HP saya!

Berhentinya langsung total, gak bertahap seperti saat saya menyapihnya.

Baca : Berhasil Menyapih dengan Brotowali

Saat dia bilang, "Mi, Kakang boleh nonton HP Ummi?"

Saya jawab tidak.

Ia sempat merengek. Tapi saya bergeming.

Untungnya sih ga sampai tantrum atau nangis kejer. Hari pertama dia sempat 3x minta HP tapi saya tolak terus. Hari kedua dia minta sekali, saya tolak lagi. Hari ketiga dan seterusnya dia gak minta HP saya lagi. Mungkin dia mulai mengerti.

Udah gitu doang. Ga seru amat ya dramanya? Hihihi
Tapi buat saya ga semudah itu. Bagian paling berat adalah agar Kakang tidak tertarik dengan HP saya, saya pun harus berusaha agar Kakang tidak melihat saya main HP mulu. Ini beraaaaat.

Kadang saya harus sembunyi. 
Kadang saya chatting dengan konsumen dengan HP ditutupi bantal. 
Kadang mengecek HP di rak atas, dimana masih terjangkau tangan saya tapi gak terjangkau mata Kakang.
Kalau Kakang ngajak main, saya harus segera 'lompat' dan melepaskan HP.

Tapi endingnya menyenangkan karena saya ga manyun lagi soal kuota :))


Terus sebagai pengganti main HP, Kakang ngapain?
Nonton di laptop * jiaaaah screen time lagi dong!

Tapi di laptop itu koleksi videonya membosankan, plus udah kebanyakan data (atau mungkin keberatan aplikasi) sehingga lemoooot banget. Jadi kalau Kakang lagi nonton, loadingnya lama dan suka macet di tengah-tengah kayak nonton dari CD bajakan.  
Ngeselin kan? Kalau Kakang udah kesel langsung saya matikan dan singkirkan aja laptopnya. Alihkan dengan kegiatan lain.


Kalau soal menonton, sebenarnya paling enak tuh nonton TV. Ga pake kuota, ga macet-macet, bahkan kalau ada iklan pun Kakang udah bisa maklum dan menunggu dengan sabar. Sayangnya (dan untungnya) pilihan tontonan dia sangat terbatas. Cuma Ipin-Upin, Shaun The Sheep, dan Tayo. Praktis Kakang paling cuma nonton TV pas pagi setelah mandi dan sarapan, serta sore menjelang maghrib.

Tapi someday saya ingin kami hidup tanpa TV.


Anyway, enaknya ngasih aktivitas apa ya untuknya sebagai pengganti screen time? ada ide?


Minggu, 23 Juli 2017

Blogwalking to LendyAgasshi.com

Namanya unik, Lendy Agasshi. Blogger yang tinggal di Bandung ini biasa menulis di http://www.lendyagasshi.com. Dalam blognya, ibu dari 2 anak perempuan ini  mendeskripsikan diri sebagai pecinta buku dan drama Korea :D


Tampilan blog http://www.lendyagasshi.com


Saat melihat-lihat bagian Label di sidebar kanan blognya, saya langsung tertarik dengan Institut Ibu Profesional. Ternyata Mbak Lendy belajar dan sharing ilmu yang ia dapat di blognya ini. Wuih, langsung lah saya kepoin postingan-postingannya karena saya ingin tahu bagaimanakah ibu yang profesional itu.

Salah satu postingan yang saya simak dan membuat saya berpikir adalah tentang Membangun Peradaban dari Dalam Rumah (10 November 2016). Dari postingan ini, saya baru mengetahui bahwa Allah menciptakan kita, pasangan kita, dan anak-anak kita untuk menjadi keluarga dengan misi yang spesifik.

Untuk yang sudah menikah, ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab seperti..
apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

- lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Beuh, berat ya pertanyaannya. Tapi masuk akal sih. Allah tidak pernah 'sembarangan' soal hidup kita. Ia sudah merancang sesempurna mungkin apa yang terbaik untuk kita, termasuk tentang dimana kita Ia tempatkan dan apa peran kita di bumi. Tugas kita mencari tahu apa bagaimana agar bermanfaat bagi lingkungan dan memberikan kontribusi.

Ternyata ada tugasnya juga lho. Untuk yang sudah menikah, ada tugas membuat surat cinta untuk suami *ehem*, menulis potensi anak-anak, dan dengan melihat potensi diri, kita harus bisa membaca kehendak Allah mengapa kita dihadirkan dalam keluarga ini. Hemm.. *merenung

Materi yang tak kalah jleb bagi saya adalah Ibu Manager Handal Keluarga (24 November 2016). Saya sadar sih selama ini masih belum menjalankan peran ibu dengan profesional. Masih sekedarnya saja. Saya masih merasa cukup dengan membersamai Kakang (2y9m) 24 jam sehari x 7 hari seminggu. Padahal peran ibu lebih kompleks daripada mengurus anak, bukan?

Seorang ibu yang baik harus terus belajar tentang manajemen rumah tangga (yang pastinya tak akan ada di sekolah formal) yang membuatnya jadi manajer keuangan, manajer gizi, hingga manajer pendidikan anak.

Profesionalitas ibu harus tampak dari kesungguhan ibu me-manage waktunya untuk mengurus berbagai hal. Ini masih jadi PR besar untuk saya pribadi.

Kalau mau baca blogpost dengan tema yang lebih ringan ada juga. Saya suka tulisan reviewnya seperti Mengukir Kebersamaan di Skylight Grill and Bar (17 Agustus 2016) atau review drama Korea Marriage Contract (24 April 2017).

Oh ya ternyata Mbak Lendy juga punya beberapa blog lain seperti http://bacaan-lendyagasshi.blogspot.co.id, http://catatan-kajianlendyagasshi.blogspot.co.id dan https://lendyagasshi.wordpress.com. Banyak ya :D

Semoga Mbak Lendy terus konsisten ngeblog dan berbagi banyak ilmu. Terutama dengan adanya sharing materi dari Institut Ibu Profesional, menjadi media agar banyak ibu bisa menjalankan perannya dengan lebih baik. Insya Allah, Aamiiin..




Rabu, 19 Juli 2017

My Wish List : Dispenser Air Miyako


Siapa pembaca blog ini yang di rumahnya ga ada dispenser air? Saya yakin pasti hampir semua orang punya ya, meskipun mungkin tentu penggunaannya berbeda-beda. Saya aja nih, dari 3 rumah yang suka saya tempati (baca: rumah ortu, rumah mertua, kontrakan suami), masing-masing punya cerita berbeda-beda tentang alat penyedia air panas dan/atau dingin ini.


Kalau di rumah mertua nih, ada dispenser dengan dua kran, untuk air panas dan air biasa. Dispenser ini hanya berfungsi untuk menaruh air galon, gak dicolok ke listrik karena pemanasnya sudah ga berfungsi. Hahahaha
Itu pun dispensernya kadang dipakai untuk menaruh air galon, kadang tidak. Ibu mertua lebih suka menjerang air dalam panci, lalu kemudian menaruhnya di termos dan wadah air minum. Di satu sisi memang mengurangi pengeluaran untuk beli air galon. Tapi di sisi lain jadi terasa tidak praktis. Apalagi kalau lagi ingin minum tapi ternyata airnya sudah habis dan belum masak air, atau sudah masak air tapi masih terlalu panas untuk dikonsumsi. Saya beberapa kali terpaksa beli air mineral di warung hanya karena kejadian seperti itu: haus tapi air minum belum tersedia.
Kalau ingin air dingin gimana? Silakan beli minuman di warung atau beli es batu dulu untuk kemudian (biasanya) diracik dengan minuman sachet.
Kalau di rumah ortu (well, lebih tepatnya rumah adik saya yang juga ditempati ortu), saat ini tidak ada dispenser. Heuheu..
Untungnya air dingin masih bisa dinikmati karena ada kulkas. Tapi kalau butuh air panas untuk bikin susu Kakang (2 tahun 9 bulan) atau kopi, ya harus mendidihkan air dulu di panci kecil sesuai kebutuhan saat itu. Memang gampang sih, masak air di kompor. Ga enaknya Cuma kalau Kakangnya lagi rewel dan nunggu susu sambil nangis-nangis. Kan kalau ada dispenser bikin susu bisa lebih cepat toh.


Mungkin kalau soal dispenser air, kondisi yang lebih baik ya di kontrakan suami. Di sana ada dispenser untuk air panas dan air suhu normal. Dispenser hanya dinyalakan jika butuh air panas. Hemat listrik, hemat gas :D
Sayangnya dispensernya ga bisa untuk mendinginkan air. Ga ada kulkas juga. Jadi lumayan merana kalau lagi pengen yang seger-seger saat udara sedang gerah.


Buat saya, dispenser air yang ideal itu adalah yang bisa menyediakan air panas dan air dingin. Terus, yang gak perlu ngangkut galon ke atasnya. Kan berat yak.
Sekarang jaman udah canggih. Dispenser aja berinovasi sehingga memungkinkan kita untuk mudah menggunakannya. Contohnya dispenser ini:


Sumber gambar : MatahariMall


Miyako Water Dispenser ini didesain sedemikian rupa sehingga galonnya cukup ditaruh di bagian bawah, tidak perlu diangkut ke atas seperti dispenser pada umumnya.
Ada dua pilihan temperatur air yaitu air panas dan dingin (Hot & Cool). Dengan kapasitas air panas 3,5 liter, kita bisa mendapatkan air panas bersuhu 95 derajat celcius. Sementara air dinginnya bersuhu 15 derajat celcius.


Harga normalnya Rp. 1.250.000,- tapi di MatahariMall.com sedang diskon 29% jadi Rp. 899.000,-
Lumayan tuh hemat 350 ribuan. bisa buat beli satu set gamis :p


Kebayang betapa nyamannya hidup ini kalau mau bikin susu, teh atau kopi bisa jadi dalam semenit. Mau bikin minuman segar juga gampang, ga perlu masukin botol air dulu ke dalam kulkas. Kadang aroma air dalam kulkas juga jadi berubah kan.


Bagaimana dispenser di rumahmu?
Suka pakai untuk bikin minuman panas atau dingin?
Cerita ya di kolom komentar ☺