Minggu, 12 November 2017

Blogwalking to Ardiba.com

Hello readers ^^

Biasanya kalau weekend pada ngapain sih? Salah satu kegiatan favorit saya saat santai adalah blogwalking. Weekend kali ini saya jalan-jalan ke blog seorang ibu yang beraktivitas sebagai guru, dan penulis bernama Ardiba Sefrianda.

Blognya yang beralamat di ardiba.com ini desainnya simpel dan cukup nyaman dibaca. 


Tampilan blog Ardiba.com


Kalau melihat halaman About-nya, saya dibuatnya kagum dengan banyaknya achievements dan beberapa buku dimana ia ikut serta dalam penulisannya.

Dari menu blognya, kita bisa tahu topik-topik yang ia tulis antara lain adalah Foodtech, Parenting, Kuliner, Wisata, dan Fiksi. Yuk, kita intip beberapa postingannya :)

Saya mulai dari salah satu postingan terpopuler berjudul 3 Pilar Pendidikan Ki Hajar Dewantara - Peran Ibu untuk Si Pemimpin Kecil. Di sini Mbak Diba menguraikan pengaplikasian 3 pilar pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam mendidik anak laki-laki semata wayangnya, Faris. Bagi saya menarik, karena saya juga ibu dari anak laki-laki (Kakang, 3yo)

Saya sih masih ingat 3 pilar itu meskipun saya mendapatkannya waktu saya SD yaitu:
1. Ing Ngarso Sung Tulodo = Yang di depan memberi contoh
2. Ing Madyo Mangun Karso = Yang di tengah membimbing
3. Tut Wuri Handayani = Yang di belakang memberi dorongan.

Bagaimana memaknai 3 pilar itu dalam mendidik anak? Untuk poin pertama, Mbak Diba berusaha memberikan teladan dalam menjaga hubungan dengan Allah (ibadah), manusia, dan alam. Mengajak anak solat, ngaji, dan zikir. Saling membantu sesama manusia dan menjalin silaturahmi dengan orang lain. Melestarikan alam dengan kebiasaan kecil sehari-hari dengan hemat air dan listrik. 

Well, ternyata tidak mudah ya. Karena untuk memberi teladan yang baik, tentu dari diri kita sendiri harus mampu disiplin melaksanakan semua itu. Tapi harus tetap semangat, karena orangtua pun juga berproses menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Poin kedua dan ketiga detailnya bagaimana? Langsung ke TKP saja yaaa. Xixixi..


Menu lain yang bagi saya menarik adalah fiksi. Di sana Mbak Diba menuliskan rangkaian dongeng Kura-Kura dan Tikus by Faris. Ceritanya lucu-lucu dan sederhana. Bisa banget dibacain untuk pengantar tidur Kakang. Eh, ada juga dongeng tentang jerapah dan gajah. Anak-anak memang paling senang dongeng binatang kan ya.

Di setiap moral juga disisipkan pesan moral yang mudah dipahami. Misalnya dalam cerita Tikus dan Kura-kura Bermain Pasir di Pantai. Meski senang bisa bermain di pantai, tapi kura-kura sedih karena tidak lagi menemukan telur penyu. Padahal, dulu pantai itu adalah tempat bertelur penyu. Pantai sudah terkena pencemaran oleh sampah. Di sini kita bisa menyampaikan pesan bahwa menjaga kebersihan itu penting, termasuk di pantai. Pencemaran sampah bisa merusak ekosistem laut.


Postingan bertopik wisata juga tak kalah menarik. Ada beberapa postingan tentang Jogja yang saya baca. Maklum, liburan ke Jogja jadi wishlist yang entah kapan terwujud. Hahahaha.. Tapi gapapa toh, kalau mau cari-cari info dulu? Di blog Mbak Diba saya dapat info tentang tur sepanjang jalan Malioboro yang disebut Maliobaren, juga review penginapan Pesona Jogja Homestay yang bikin saya makin mupeng travelling ke Jogja.


Selain beberapa postingan di atas, ada banyak postingan lain yang bagi saya menarik tapi akan jadi panjang banget kalau saya tulis di sini satu persatu. Heuheu

So, kalau penasaran langsung aja ke blognya yaa

www.ardiba.com ;)




Sabtu, 04 November 2017

Panti Asuhan Mamah Titin



Kalau lagi ngobrol dengan keluarga saya (papa, mama, adik-adik kandung), saya suka menyebut dengan bercanda bahwa saya tinggal di Panti Asuhan Mamah Titin Sumedang. Kenapa? Karena di Pondok Mertua Indah ini, banyak anak-anak. 
 
Sebenarnya cucu Mamah baru dua yaitu Arul (9 tahun) dan Kakang (3 tahun). Tapi selain suami, anak, menantu, dan dua orang cucu, di sini juga tinggal 3 keponakan Mamah. Ketiganya perempuan kakak beradik. Sebut saja mereka si Sulung (16 tahun), si Tengah (9 tahun), dan si Bungsu (8 tahun).

Bagaimana mereka bertiga bisa tinggal di rumah ini? Well, ceritanya agak panjang. Tapi kalau dipersingkat sih, ayah mereka melepaskan tanggung jawab, dan ibu mereka bekerja di kota Bandung sebagai buruh. Dengan kondisi finansial yang tidak kuat, sang ibu tidak memiliki pilihan lain kecuali menitipkan anak-anaknya ini pada kakaknya, yaitu Mamah mertua saya.

Sebenarnya keluarga Mamah tidak bisa digolongkan sebagai orang berkecukupan. Dulu saat pertama kali mengenal Bapak mertua, pekerjaannya adalah jualan bubur ayam dan soto bongko. Sekarang beliau bekerja di bagian keamanan sebuah instansi.

Mamah sendiri adalah seorang ibu rumah tangga yang sesekali menerima panggilan jasa pijat.
Meski hidup sederhana, Mamah menyanggupi untuk menjaga ketiga saudari ini. Karena kalau bukan Mamah, siapa lagi?
Si Tengah dan si Bungsu berusaha ngambil buah jambu

Kehidupan ketiga bersaudari ini (diusahakan) normal. Mereka bersekolah, bermain, dan mengaji selayaknya anak-anak lain di lingkungan sini. Kalau membandingkan masa kanak-kanak saya dengan mereka, saya jadi merasa amat sangat beruntung sekali. Bisa dibilang masa kanak-kanak saya sangaaaaat sempurna dan bahagia. Sementara saat melihat mereka, kadang saya sedih.  Untunglah mereka masih bisa tertawa lepas khas anak-anak, yang sungguh saya syukuri.

Hal yang membuat saya sedih salah satunya jika makanan yang tersedia tak cukup untuk semua orang. Misalnya kita punya sekerat daging rendang, yang kalau dibagi 9 (Bapak, Mamah, Anak, Menantu, 2 Cucu, 3 Keponakan) maka masing-masing akan mendapatkan ukuran sebesar dadu.
Jadi ya tidak dibagi. Dibiarkan saja utuh atau paling banter dibagi dua. Yang diprioritaskan tentu Bapak sebagai kepala keluarga. Kalau Bapak tidak mau, maka akan diberikan pada cucu-cucu kesayangan. Kalau cucu-cucu tidak mau, ditawarkan pada anak-menantu. 3 keponakan berada di prioritas terakhir. Untunglah bagi mereka bertiga, daging sapi tidak termasuk makanan favorit.

Pernah juga saat Mamah membeli sebungkus nugget ayam ukuran kecil. Kalau tidak salah, isinya 9 pcs. Nugget ini digoreng diam-diam dan habis dimakan Kakang 2 pcs pagi dan 2 pcs siang. Saat malam, saya goreng lagi 2 pcs untuk Kakang. Sisa 3 pcs Mamah sisihkan untuk Arul. Kali ini Si Tengah dan Si Bungsu melihat dan  sebenarnya mupeng banget. Nugget ayam itu adalah kesukaan mereka. Tapi berhubung tidak ada lagi, terpaksalah mereka gigit jari. Perih, Jenderal!
Itu salah satu hal yang bikin saya semangat KB #loh #abaikan.

Soal makanan, mereka didorong untuk menerima apa yang ada. Kalau Mamah masak sayur bayam, maka sebaiknya mereka tidak bikin ceplok telur. Kalau pun boleh masak telur, tidak boleh 1 orang 1 telur, melainkan 2 butir dibuat dadar telur agar bisa dimakan 3-4 orang. Semacam itulah.

Tak hanya soal makanan, soal refreshing juga mereka memprihatinkan. Mereka nyaris tidak pernah kemana-mana untuk berwisata. Pergi ke supermarket atau berenang sebagai pelajaran wajib dari sekolah adalah refreshing yang masih bisa dilakukan, meski termasuk MEWAH BANGET buat mereka (baca: jarang dilakukan). 

Kalau saya kan masih bisa ya kabur ke Bandung hanya untuk refreshing. Tapi mereka tidak. Kadang-kadang mereka minta diajak jalan-jalan ke supermarket tapi itu pun lebih sering tidak dikabulkan daripada dikabulkan. Ya gimana, ke supermarket juga butuh ongkos dan pasti ngeluarin duit. Mereka bisa aja sih window shopping. Tapi kan kasian, masak di supermarket gak beli apa-apa?

Kalau ada kesempatan untuk mereka jalan-jalan atau refreshing, saya dan suami sebisa mungkin mengusahakan. Misalnya saat tahun 2016 lalu suami dan teman-teman menggalang dana untuk mengajak anak-anak di sebuah panti asuhan di Bandung untuk ke bioskop nonton Finding Dori, ketiga bersaudari ini diikutsertakan.

Waktu adik saya menggelar One Day Fun Doing Fun (ODFDF) di Majalengka, kami semua di Panti Asuhan Mamah Titin ini ikut (kecuali Bapak, jaga rumah). Acara yang berisi aneka games seru ini memang rutin digelar dengan lokasi berbeda-beda. Tujuannya adalah untuk menggembirakan hati anak-anak yang kurang beruntung.  Di akhir acara, biasanya anak-anak diberi goodie bag menarik dan sedikit santunan.

Saat itu, ketiga bersaudari pulang dengan hati riang, perut kenyang, dan masing-masing mendapatkan alat tulis lucu-lucu, Al-Quran, dan uang.


Kalau kami ada rezeki lebih, tentulah ingin mengajak mereka refreshing lagi. Bagi saya pribadi, mereka bertiga udah kayak baby sitter-nya Kakang. Mereka lah yang sering menemani Kakang bermain, bahkan si Bungsu paling suka menawari (seringkali memaksa) untuk menyuapi Kakang. Heuheu

Ngajak mereka jalan-jalan pun sebenarnya ga harus jauh. Berhubung di Sumedang jarang tempat wisata, saya pikir Bandung adalah kota yang ideal karena dekat dan biaya transportasinya masih terjangkau.

Bandung punya banyak sekali pilihan wisata. Beberapa tempat terpopuler yang saya tahu misalnya D’Ranch, Farmhouse, Dusun Bambu, Trans Studio, Saung Angklung Udjo, Dusun Bambu, dan baaanyak lagi. Ssst, saya baru tahu loh kalau semua yang saya sebutkan itu tiket masuknya bisa dibeli di Traveloka.

Selama ini saya tahunya Taveloka hanya untuk pesan hotel dan pesawat aja. Eh ternyata sekarang ada menu Attractions & Activities dimana kita bisa beli tiket wisata, event, kuliner hingga massage package. Uwow!



Fitur filternya memudahkan kita mencari pilihan aktifitas dan atraksi. Bisa filter berdasarkan popularitas, harga, durasi, rating pengguna, hingga jenis aktifitas.





Itu kalau nama activity/attractions-nya di klik, kita bisa melihat detail keterangannya seperti foto-foto, jam buka, perkiraan durasi yang kita butuhkan untuk main, lokasi, dan juga highlights yang membuat kita bisa membayangkan bakal seseru apa kalau kita main di sana.

Asik ya, jadi ga usah mikir harus ngantri panjang di loket, kita udah bisa masuk deh ^^

Oh ya, tiket yang kita beli dari Traveloka ini paperless. Ga perlu di-print jadi ga ribet dan ga nyampah. Yeay!

Hemm, kira-kira enaknya ngajakin mereka kemana ya?









Kamis, 26 Oktober 2017

Menyelami Dunia Remaja di Film My Generation

Halo Maak..

Kapan terakhir kali nonton bioskop?

Sebagai emak-emak dengan 1 balita, saya suka mikir-mikir kalau ke bioskop. Di usia 3 tahun, Kakang udah 3 kali ke bioskop dan relatif terkondisikan. Tapi tetap saja pernah ada saat dimana dia ga betah dan minta keluar studio. Jiaaah kan rugi yak, meskipun cuma beberapa menit keluar, jadinya ketinggalan beberapa adegan.

Meski begitu, saya tetap suka mupeng kalau ada film-film baru di bioskop. Khususnya film Indonesia. Sebagai mantan filmmaker yang nasionalis (halah), saya selalu ingin mendukung film Indonesia dengan menontonnya di bioskop. Apalagi semakin kesini film Indonesia semakin bermutu. Tak melulu film horor yang menjual sensualitas.

Buat yang suka nonton bioskop, atau malah udah lama ga ke bioskop kayak saya, tahu gak sih beberapa hari lagi akan rilis film Indonesia terbaru?

Sabtu, 21 Oktober 2017

Kakang 3 Tahun, YEAY

OMG..

Kerasa banget waktu cepat berlalu. Perasaan kemarin dia masih nenen, masih merangkak-rangkak, sering jatoh saat belajar jalan, pernah sampai benjol 3 di kening. Huahahahahaha

Sekarang? Wuiiiih..

I'm so proud


Sabtu, 14 Oktober 2017

Modus Penipuan dengan E-Cash Mandiri Mengatasnamakan Grab



Malam itu di Sumedang. Suami mengaktifkan aplikasi Grab Drivernya. Ia memang menjadi driver ojek online untuk pekerjaan sampingan selain jadi karyawan sebuah perusahaan di Bandung.

Sebenernya di Sumedang masih amat jarang orang yang menggunakan Grab. Terkadang sehari cuma ada 1 penumpang. Kadang tak ada sama sekali. Padahal itu weekend, yang kalau dibandingkan Bandung pastilah sangat jomplang. Ya iyalah yaa
Hapenya berbunyi pertanda ada calon penumpang. Beberapa detik setelah ia terima, ada telepon masuk. Suami kira dari penumpang. Ternyata bukan.

"Mas, bisa telepon satu jam lagi gak ya? Saya baru nerima orderan nih.." begitu ucapan suami kepada sang penelepon.

Sepertinya sang penelepon menolak, sehingga suami lanjut mendengarkannya.
"Oh.. update terbaru ya? Hm.. begitu? terus..?"
Kalau saya nguping sih, sepertinya peneleponnya dari Grab.

Beberapa menit kemudian suami menghampiri saya,

"Mi, minta nomor rekening Mandirimu.."
Weits.. asik ada yang mau transfer! pikir saya.

"Bentar ya Mas, saya ga hapal nomor rekeningnya." sahut suami pada si penelepon. "Oh? Gak perlu ya? Gpp? Ya udah.."

Haaaa? Alarm di kepala saya berbunyi. Bagaimana cara orang mau transfer tanpa tahu nomor rekening tujuan? Saya langsung teringat modus penipuan menggunakan e-cash Mandiri. Sering banget baca cerita seperti itu. Dan.. oh iya, bukankah official Bank untuk Driver Grab adalah CIMB Niaga?

Lebih curiga lagi saat suami mulai  mengeluarkan motor dari dalam rumah.

"Mau kemana?" tanya saya.
"Ke ATM."
"Bisa ceritain dulu gak ini soal apa?"

Dia hanya mengedipkan mata sambil tersenyum. 
Telepon masih terhubung.
FIX.
Saya yakin 100% si penelepon sedang mengarahkan suami untuk transfer uang padanya.
Berhubung suami tampak terburu-buru, saya tidak sempat ngomong apapun kecuali, 
"Hati-hati.."
Satu-satunya yang membuat saya gak terlalu galau adalah..
Rekening Mandiri yang kartu ATMnya dipegang suami itu isinya KOSONG. Heuheu
Maklum udah lama gak dipake.

Menit demi menit berlalu. 
Waktu berjalan terasa amat lambat.
Kemudian turun hujan. 
Menambah suasana semakin gelap.

Bapak mertua menghubungi nomor suami berkali-kali, tidak diangkat.

Sekitar 10-15 menit kemudian suami kembali, kehujanan.

"Ternyata penipuan." begitu kalimat pertamanya.
"Tuh kaaan!" saya berseru. "Duit ada yang ilang?"
"Enggak.." jawabnya.

Kemudian ia ceritakan detailnya, bahwa si penelepon mengaku dari Grab. Katanya, untuk orderan yang suami confirm barusan, tidak apa-apa di-cancel. Tidak akan mempengaruhi performance

Dengan panjang lebar si penelepon menginfokan bahwa Grab memiliki program baru yaitu PayPro, dimana Grab akan memberikan bonus dari awal Driver bergabung sampai sekarang. Bonus ini harus diberikan per tanggal 30 (Saat itu tanggal 30 September). Kalau tidak, bonus akan hangus dan akun driver akan di suspend.

Ancaman suspend membuat suami terus mendengarkan apa yang penelepon katakan. Suami awalnya agak percaya. Namun saat akhirnya si penelepon mengarahkan untuk ke ATM, di situlah suami sadar bahwa ini tidak benar.

Meskipun begitu, suami penasaran dengan modus si penelepon. Suami mencoba mengiyakan semua instruksi, hingga pergi ke ATM. Di ATM, suami pura-pura melaksanakan instruksi si penelepon. Sengaja ia berkali-kali gagalkan transaksinya, yang membuat si penelepon marah-marah, “Yang bener dong Pak!”

Dari instruksi penelepon, suami jadi tahu tentang E-cash Mandiri, dimana kita bisa mentransfer uang ke nomor hape. Kalau saya googling sih, pemilik nomor hape bahkan tidak perlu memiliki rekening di Bank Mandiri untuk memanfaatkan E-Cash ini.

Long story short, suami kemudian menutup telepon dan menghubungi Grab pusat. Grab pusat mengonfirmasi bahwa itu adalah penipuan.

Si Penipu Gagal berusaha menghubungi lagi namun suami abaikan. Ia juga mengirim pesan berisi kata-kata kasar dan amarah. Bahkan mengancam akan memblokir Grab ID suami. Suami hanya tertawa dan mempersilakan penipu untuk memblokirnya.


---

Berat amat yak jadi ojek online (ojol).
Udahlah dijadikan target penipuan, eh sekarang ada kemungkinan dilarang beroperasi oleh Dishub Jabar.
Bagaimanapun, kami bersyukur Allah masih melindungi, dan semoga selalu melindungi.

Be careful, guys!