Sabtu, 08 Agustus 2009

Naik Kapal Laut Kelas Ekonomi




Aku baru baca kumpulan tulisan para blogger Makassar di buku Ijo Anget Anget terbitan Gradien Mediatama. Lumayan juga cerita-ceritanya. Ada salah satu tulisan yang bercerita tentang pengalaman buruk naik kereta api ekonomi yang dialami oleh Syaifullah Ahmad Faisal Dg Gassing.

Aku tidak ingat pernah naik kereta ekonomi atau enggak, tapi aku pernah denger ‘isu’ (isu dari mana?) kalau mamaku sampe nangis-nangis pas naik kereta api ekonomi sama papaku. Waktu itu aku udah lahir belum ya? Entahlah.
Terakhir aku berdekatan dengan kereta api ekonomi adalah pas perjalanan dari Batam ke Bandung, transit di Jakarta. Dari Jakarta aku rencananya mau naik kereta api Argo. Nah, pas di stasiun, ada kereta api ekonomi yang lagi ‘mangkal’. Iseng-iseng aku dekati salah satu ventilasinya, dan… uuugghh… hawa panas menyeruak. Aku langsung menarik diri, menjauh; gila! Dari luar aja aku bisa ngebayangin betapa pengapnya di dalam sana!
Nah.. membaca tulisan tentang penderitaan naik kereta api ekonomi, aku jadi teringat sesuatu.. Dan sekarang aku mencoba menulis tentang.. penderitaan naik KAPAL LAUT kelas ekonomi!

Papaku dapet tugas mengantar dokumen dari Batam ke Bandung. Perjalanan pergi-pulang naik pesawat dibiayai oleh perusahaan. Melihat kesempatan itu, aku dan adikku, Nurul, bersekongkol membujuk papa supaya membawa kami pulang ke Batam. Sayangnya, papaku tidak punya ongkos untuk transportasi kami. Dengan kejamnya, kami memohon ke papa agar uang yang akan digunakan untuk beli satu tiket pesawat ke Batam, dialihkan untuk membeli tiga tiket kapal laut. Waktu itu kami bilang, “Ga papa deh kelas ekonomi.. non-seat juga gapapa.. yang penting kami pulang!”
Dan waktu itu aku dengan pede dan sombong, merasa bahwa kelas ekonomi is nothing! I can pass this.
Papaku dengan kasih sayang yang mendalam terhadap anak-anak gadisnya ini, akhirnya mengabulkan permintaan itu. Kami membeli tiket kapal laut Jakarta-Batam kelas ekonomi. Aku dan adikku senang bukan main. Sampai.. kami tiba di Pelabuhan.
Kami naik bus Bandung-Jakarta yang langsung ke Tanjung Priok. Bus itu tiba di pelabuhan sekitar pukul 10.00 WIB. Kapal laut baru akan datang pukul 22.00 WIB. Oke.
Yang parah: ga ada tempat menunggu yang layak!
Yang ada hanya sebuah tempat.. suasananya kayak tempat parkir tingkat dua di Mall. Lantai semen luas membentang, ada atap dan dua sisi tembok. Dua sisi lainnya tanpa dinding. Ada puluhan kursi dengan keadaan menyedihkan, yang jauh dari cukup untuk menampung buanyak sekali calon penumpang kelas ekonomi yang beberapa udah standby disana. Kami membeli alas berbentuk tikar (Rp.5000/lembar) untuk duduk or tidur disana. Bener-bener menggembel dah. Dan udara Jakarta.. you know lah. Belum apa-apa aku udah pengen ke Bandung lagi..
Over all, suasananya disana udah kayak di pengungsian. Emang aku pernah ke pengungsian? Percayalah, aku pernah merasakan yang namanya mengungsi. Lanjut.
Dua belas jam menunggu.. akhirnya tuh kapal laut datang juga. Kapalnya sangat besar, tentu. Dan dengan lampu-lampu bercahaya di tengah gelap malam (halah!), kapal itu tampak indah. Kami dan para penumpang lain masuk berbondong-bondong. Kalau bagian masuk kapal sih, ga kenal kelas ya.. Kelas I juga pasti desak-desakan..
Ternyata saudara-saudara, di dalam kapal sudah ada penumpang yang masuk dari kota sebelumnya. Di Jakarta ternyata mereka transit. Dan.. seperti tiket kereta api yang nomor tempat duduk tidak berlaku, ternyata di kapal laut itu juga. Nomor tiket kami tidak berlaku! Sudah ada orang yang menempati tempat dimana kami bisa tidur. Jadilah.. kami tidur di lantai lorong di wilayah kelas ekonomi, tempat orang berlalu lalang.. Kami menggelar tikar lagi.. dan kami pun menggembel kembali..
Aku tidak tahan berada disana. Sangat panas. Sangat pengap. Sangat berkeringat. Sangat tidak nyaman. Persis seperti di kereta api ekonomi. Aku berusaha sesering mungkin untuk keluar, ke bagian dek dimana aku bisa merasakan angin segar. Kadang-kadang sendiri, kadang-kadang berdua adikku, meninggalkan papaku di dalam sana menjaga barang bawaan. Sebenarnya agak ga tega sih, tapi bagaimana? Aku benar-benar ga tahan! Sempat mau pindah ke bagian dek, tapi anginnya kencang. Serba salah. Tidur di dalam, sangat pengap. Tidur di luar, pasti masuk angin. Kami memutuskan tetap di dalam.
Alhamdulillah, kami menemukan tempat yang saaaaangaaaat nyaman: Mushola. Tempatnya luas, adem, ber-AC, dan sepi. Rasanya ingin berlama-lama disana. Tapi aku tak tega membiarkan papaku sendirian. Lagipula papa kan juga harus sholat, dan kami pun bergantian menjaga barang.
Soal makanan.. aku makan beberapa suap. Ga berselera. Bukan karena tidak enak. Aku jarang bermasalah soal rasa. Tapi karena aku ga nyaman. Daripada mual?
Tengah malam.. Aku sulit tidur. Dengan udara yang pengap (tanpa ventilasi!), badan ga bisa lurus karena keterbatasan tempat (Satu tikar aku pakai berdua dengan adikku. Tikar itu luasnya setengah dari kasur single bed!), dan kepala berbantal ransel tebal yang sama sekali tidak empuk. Aku gak bisa tidur. Aku sangat ingin ke Mushola. Aku sempat menimbang-nimbang untuk kesana kalau-kalau ‘pertahanan’ku bobol. Tapi aku ga berani. Mushola itu sangat jauh, berada di tingkat paling atas kapal. Dan saat itu tengah malam, aku takut ada orang asing yang mengangguku saat aku kesana sendirian, dan tidak ada orang yang memperhatikan karena semuanya lagi pada tidur. Hiiiyy..
Maka aku pun bertahan.
Aku memperhatikan papaku yang tertidur lelap. Subhanallah.. Tidak pernah sekalipun aku mendengar satu kalimat keluhan dari bibirnya. Disaat aku dan adikku tadi sibuk jalan-jalan karena gak betah, papaku tetap setia duduk di sana. Di lantai lorong kapal. Di kelas ekonomi. Menjaga barang-barang. Ia hanya beranjak jika ke Mushola, ke WC, atau mengantri makanan untuk kami (aduh jadi pengen nangis nih pas nulis ini).
Aku tahu pasti Papa juga merasakan ketidaknyamanan yang aku rasakan. Tapi beliau sangat sabar dan pendiam. Ya Allah.. sungguh aku merasa sangat berdosa. Andai aku dan adikku tidak memaksa Papa, mungkin saat ini Papa sudah tidur dengan nyaman di kamarnya di Batam, setelah melakukan perjalanan kurang dari dua jam naik pesawat..
Pa.. Maafkan kami..
Keesokan harinya kami sampai di Tanjung Balai Karimun. Ya, kami harus naik kapal lain lagi untuk ke Batam. Ketika berkemas-kemas, aku kehilangan sebelah sepatuku. Baguuuuss.. Semakin meyakinkanku bahwa aku reinkarnasi dari Cinderella*. Hahaha.. Akhirnya aku pakai sandal jepit sampai rumah. Semakin menghayati jadi gembel deh. Apalagi aku dan adikku ga mandi karena malas ngantri dan minim air :p
Gembel..! Gembel..!

Kalau Daeng Gassing pada akhirnya bertekad “Kalau tidak betul-betul darurat, saya tidak akan pernah mau lagi naik kereta kelas ekonomi, NO THANKS!!!”

Kalau aku bilang “Aku kapok. Lain kali, aku lebih baik tetap di Bandung daripada harus ke Batam naik kapal laut kelas ekonomi. Never. Ever. Again.”

4 komentar:

  1. menghayati banget....

    BalasHapus
  2. menghayati jadi gembel..?
    begitulah..
    hhehehe..

    BalasHapus
  3. Lebay ah dasar anak manja, buat note aja,
    "itu blm seberapa"

    BalasHapus
  4. thq infony bermanfaat bnget buat saya yg rencanany awal maret nie mau plang ke bandung n balik gi ke batam pake kapal laut,,setidakny saya jadi tahu bagaimna keadaan d kapl laut itu,,yg kebetulan blum pernah saya tumpangi

    BalasHapus