Sabtu, 20 Maret 2010

Sindrom Asperger: Antara Rizvan Khan dan Christopher Boone

Dimana-mana orang membicarakan My Name Is Khan.
Para pengulas film memberikan pujian.
Lama-lama panas juga ni kuping.
Akhirnya “terpaksa”lah aku menonton film ini.

Okay, aku akui My Name Is Khan menjadi one of the best movies i’ve ever seen.
Ide cerita yang sederhana,
Alur yang bagus,
Sinematografi yang apik,
Akting yang berkualitas,
Dan pastinya membuat emosi penonton teraduk-aduk.

Satu hal yang sedikit menggangguku, adalah karena aku punya sedikit frame of reference tentang penderita sindrom Asperger dari buku berjudul “Insiden Kematian Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran”, dimana sang penulis, Mark Haddon, mengambil sudut pandang seorang anak 15 tahun penderita Asperger bernama Christopher Boone

Gaya penceritaan Haddon membuat karakter Boone ini “nempel banget” di otakku.
Saking berkesannya, aku catat dalam blogku bahwa Boone itu:

1. Tidak suka disentuh

2. Menjerit kalau sedang kesal atau bingung

3. Mengerang

4. Benci warna kuning dan coklat

5. Tidak mau makan kalau jenis makanan yang berbeda saling bersentuhan.

6. Jago matematika & fisika & punya minat yang besar terhadap keduanya

7. Menyukai segala hal yang teratur, terpola, & terjadwal. Ia suka menggambar, terutama peta, &
yang paling tidak disukainya adalah masa depan, yang menurutnya sangat tidak pasti. Ia membenci ketidakpastian.

8. Tidak mampu melihat yang tersirat. Ia tidak mengerti metafora. Ia tidak mengerti sindiran. Ia tidak tahu harus menjawab apa kalau orang berkata, “Yang benar saja! Masak kamu tidak tahu?”

9. Tidak bisa menerima berbagai stimulus yang terlalu banyak. Terlalu banyak hal yang dilihat, didengar, & dipikirkan membuat ia pusing bahkan muntah

10. Manusia menggunakan otak kanannya untuk melihat sesuatu secara holistic (menyeluruh). Christopher tidak dapat melakukan itu. Sebaliknya, ia memperhatikan detail. Ia melihat warna sepatu orang, apa yang dipegang orang,dll. Daya ingatnya sangat bagus.

11. Tidak bisa memahami perasaan orang lain. Ia melihat ayahnya berurai air mata. Tapi ia tidak merasakan kesedihan ayahnya. Tetangganya sedih melihat ibu Christopher selingkuh. Tapi Christopher sama sekali tidak sedih. Ia tidak bisa melihat sudut pandang orang lain & tidak bisa berempati.

12. Tidak bisa mengekspresikan perasaannya sendiri. Ia tidak bisa bilang, “Hari ini aku senang”. Tapi ia menulis, ‘Perasaanku seperti ini :-)"

13. Ia tidak mengerti humor, tidak mengerti ejekan, tapi ia tidak suka ditertawakan (ia sering ditertawakan karena kemampuan penggunaan bahasanya yang aneh)

14. Kemampuan sosialisasi sangat rendah. Ia senang sendiri. Takut berbicara dengan orang asing. Tidak suka berbasa-basi. Tidak bisa menatap orang yang berbicara dengannya.

Nah, dengan pemahamanku yang seperti itu, aku tidak merasa heran ketika melihat (PERINGATAN! INI SPOILER) Khan benci warna kuning, menghindari kontak mata, tidak suka disentuh, tidak suka keramaian dan kebisingan, percaya mentah-mentah ketika Mandira bilang “I’ll kill my self!”, teralihkan perhatiannya ketika melihat kendaraan lewat, dan berbicara blak-blakan.

Tapiii..

Aku jadi merasa aneh ketika: (PERINGATAN KEDUA: INI SPOILER PARAH :p)

1. Khan menari di hari pernikahannya (padahal kan harusnya dia gak suka keramaian & berisik),

2. Khan menyentuh tangan Mandira, menyambut tangan Sameer, dipeluk/memeluk, bahkan having sex (padahal kan seharusnya dia gak nyaman bersentuhan secara fisik)

3. Khan jatuh cinta ketika melihat wajah Mandira yang tertawa (padahal kata Wikipedia, penderita Asperger tidak memahami pesan nonverbal seperti ekspresi wajah, atau senyum)

4. Khan jadi salesman! (padahal seharusnya ia mengalami kesulitan bersosialisasi dan pemalu)

5. Khan menolong Mama Jenny ketika diserang badai (padahal penderita Asperger sulit ber-empati. Dalam arti, secara teori seharusnya ia sulit merasakan penderitaan Mama Jenny dkk. Ingat ketika Khan menolong anaknya? Khan menolong karena si anak minta bantuan loh, bukan karena Khan merasa empati! Dan itu lebih masuk akal)

6. Khan bilang “I love you, too” ke Mandira (padahal bagaimana mungkin dia mengucapkan that L word, kalau sebelumnya ketika dia berangkat dia cuma bisa bilang bahwa ‘dadanya terasa sakit dan menyempit, dan tidak sembuh meski minum minuman jahe(?) yang banyak’.
Ada blog yang menyebutkan bahwa penderita Asperger lemah dalam pengertian dan pemikiran abstrak. Jadi menurutku tidak seharusnya Khan mengerti konsep/ makna cinta. Deskripsi ‘sepertinya dadaku menyempit’ lebih masuk akal bagiku daripada mendengar Khan ngomong cinta)


Ah.. ribetkah tulisanku?

Aku mohon maaf kalau memang begitu.

Ternyata aku sering terusik kalau udah menyangkut logika cerita.

Sebenarnya aku sering memberi toleransi dengan mengatakan,
“Yaah.. namanya juga film…”

Tapi karena film ini ‘real’, bukan fantasy/science fiction, berat rasanya mengatakan itu.

Jadi, bagaimana menurut teman-teman?

19 komentar:

  1. don't justify some think that u don't understand, you fuck an idiot

    BalasHapus
  2. waaaaw..
    komentarmu yang kedua aku hapus.
    abis, kasar bgt.

    komentarmu yg pertama ini..
    ga aku baca semua.
    padahal anak kalimat terakhir harusnya disensor tuh.


    apa yang tidak aku mengerti?
    maaf kalau aku salah.

    aku memang kurang mengerti tentang sindrom ini.

    dengan rendah hati aku bertanya,
    tulisanku salah di bagian mana, dan harusnya bagaimana?

    terimakasih..

    btw, kenapa anonim sih?

    BalasHapus
  3. tul jgn terlalu mencintai orang berlebihan.

    BalasHapus
  4. ahahahaha shinta ini yang kita ketemu di bioskop khaann.. hihihi aku terlalu sibuk nangis pas nonton jd ga merhatiin sindrom Asperger nya deh hihihi pdhl fir jg baca novel “Insiden Kematian Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran”,:p weew... keliatan bgt yaa nonton cm sebagai penikmat.. bukan pengamat :D

    nice share shinta..

    BalasHapus
  5. @Mbak Fanny:
    kayaknya komentar Mbak Fanny harusnya di bawah postingan Ritual Patah Hati deh..
    hehe..

    @Firly :
    iya..
    aku malah pengen menikmati fir..
    tapi jadinya malah ga menikmati.
    malah kebanyakan mikir & protes. hehe..

    BalasHapus
  6. menurut aku ya, mungkin faktor ibunya berpengaruh kuat banget dalam diri khan, liat kan hal hal yang diajarin ibunya banyak yang berpengaruh banget dalam kesehariannya, jadi dia cuma melakukan hal yang dia tiru dari ibunya (kebiasaan memeluk) waktu dia peluk adenya dia ngomong hal yg sama kaya waktu ibunya peluk dia kan?
    trus soal mama jenny, disitu dia bukan berempati tapi dia liat kata wihelmina trus dia langsung kesana, kalo dia berempati pasti dia bantuin pengobatan orang orang yang sakit,
    jujur, saya ga tau apa apa soal sindrom asperger tapi kalo menurut saya ya, disitu kan dia bilang kalo dia tuh cuma ga bisa ngungkapin, tapi sbenernya di hatinya dia ngerasain, well mereka juga manusia kan yang juga di ciptain tuhan.

    BalasHapus
  7. kalo menurutq,,,
    yah namanya juga film kak,
    emang untuk dinikmati,,,
    nonton film gak usah terlalu sambil mikir kek mikir negara ajha,,,
    just enjoy,,,
    hehehe

    BalasHapus
  8. sorry ya...tapi sepertinya di cerita di katakan dia (khan) pengidap asperger yang lebih baik kondisinya...kakak iparnya mengatakan setelah diperiksa..mungkin dia membaik karena ibunya itu yang dikatakannya kepada suaminya. sepertinya begitu kalau saya tidak salah. jadi lebih masuk akal untuk dipahami

    BalasHapus
  9. @Pamela & Anonim:
    iya, aku inget..
    mungkin memang begitu.
    Rizvan Khan keadaannya lebih baik..

    seharusnya memang aku melihat keduanya (Khan & Boone) sebagai dua kasus yang berbeda dan tidak membanding-bandingkannya..

    @Luphita:
    Setuju sekali! :)

    BalasHapus
  10. asperger kan juga ada tingkatannya bu..
    untuk kasus boone, mungkin aspergernya lebih mendekati autis klasik,
    tapi untuk khan lebih mendekati normal..
    saya juga seorang penderita asperger
    memang agak sulit bagi saya untuk menunjukkan empati saya pada orang lain, tapi bukan berarti saya tidak ingin berempati..
    saya hanya tidak mengerti bagaimana ekspresi yang pas yang sesuai dengan pemahaman orang lain, karena itu mungkin kesannya jadi aneh..
    memang lebih mudah untuk menjauhi orang asperger daripada membantunya, padahal justeru pengertian dari orang lainlah yang bisa membantu penderita asperger mengatasi depresi soaialnya..

    BalasHapus
  11. Ooohh..
    begitu.

    Aku baru tahu.
    Terimakasih loh Chee, udah sharing.. :)

    BalasHapus
  12. Aku pernah baca buku ttg penderita asperger juga.. Klo gak salah judulnya "Namaku Ben". Makanya aku juga seperti Sinta yang dah gak kaget sama tingkah laku si Khan dalam film ini.

    Pengamatan kamu bagus. Aku juga sempat memperhatikan hal2 yang kamu tulis tadi. Tapi aku lebih pilih untuk menikmati filmnya aja. Anyway, aku setuju sama Pamela, anonim, dan Chee.. Asperger itu ada tingkatannya, dan sepertinya Khan ini pengidap asperger yang jauh lebih baik dari yang lainnya, menurut aku ibu Khan memberi pengaruh yang cukup besar buat dia.

    Overall, alur cerita & akting yang bagus dari pemainnya membuat film ini menarik untuk ditonton. Tapi yang paling aku suka adalah pesan2 positif dari film ini..

    There is just one difference between people.. Good people & bad people.
    There is NO other difference.

    BalasHapus
  13. coba tonton marry and max . perfect . kalo my name is khan masih jauh dari kata bagus. maaf, menurut penialian subjektif saya

    BalasHapus
  14. aku pengidap sindrom asperger..
    film itu pdhal bagus ko..
    lya_kibum@yahoo.com

    BalasHapus
  15. Anak saya umurnya 16 tahun juga mengidap SA namun dgn tingkatan yg lebih ringan dr Khan ini.dia gk pernah bergaul dan asyik dgn komputernya sendiri di rumah,dia sgt kikuk ketika berbicara,bicaranya kaku dan susah diajak becanda.sesekali dia menanggapi jika ayahnya becanda

    BalasHapus
  16. ini bahas topik penyakit a aja
    mnurut w penderita sindrom asperger bkan ga da rasa kya yg disbt diats, tpi smua a bersumber dari 1 hal "KAKU" itu ajah.

    sinta jga bsa ngebayang in kpn shinta pernah merasa kaku pas lagi sama seseorang, pas hening, trs mikir lebih baik diam atau bicara, pas dipaksain in bicara ehh malah aneh jadinya dan memalukan, mo pegang pundak'a dengan maksut menghibur, pas angkat tangan mo pegang pundak'a ehh malah ketepuk kencang pundak'a sampe dia kaged, karna kaged dia liat kita dgn pandangan heran, karna diliat trs buyar smua pikiran kita apa sih maksud kita tdi mo pegang pundak'a. aaaaaaa lariiii....awkawkawkawkaw

    nah klo yg penderita sindrom asperger itu bukan kaku sama satu orang, dia kaku sama semua orang disekeliling dia, gmn tu?

    orang yg ga sembuh - orang mo sedih ke, mo apaa ke, mending ga usah ngapa2in (diam), kya ga tau aja, sibuk ama diri aj,

    orang yg sembuh - berfikir pengen berubah, trs mengamati trs mempelajari dst

    BalasHapus
  17. oooooohh...
    begitu toh..

    ilustrasi yang menarik dan mudah dimengerti.
    terimakasih.. :)

    BalasHapus
  18. nice share ka shinta dan nice share juga buat semua komen nyaaa :) aku lagi ada tugas analisis film dari matakuliah filsafat sih dan aku mutusin buat analisis My Name Is Khan .. aku lagi cari tau tentang asperger dan bagaimana unsur yang diangkat di film itu yaitu isu rasial dan agama bisa berpengaruh ke dalam kehidupan seorang pengidap asperger .. dan alhamdulillah jadi dapet "pencerahan" stlah baca page ini .. makasih smuanya ya, ka shinta dan komentator :)

    BalasHapus
  19. btw, aku udah follow yaaa :) ditunggu mampir ke blog ku .. makasih ^_^ *walau skrang lagi hiatus* hehe theshimmeringsheema.blogspot.com

    BalasHapus