Sabtu, 31 Oktober 2015

Suamiku, Semoga Aku Cukup Untukmu..



Pada zaman dahulu kala, tepatnya hari Rabu pagi, 21 Oktober 2015 yang cerah ceria, saat saya membaca linimasa Facebook, ada seorang teman yang membagikan sebuah video dari Ana Abdul Hamid yang lumayan bikin saya penasaran. Saat saya klik dan tonton videonya, dhuaaar..! Langsung galau mendadak. Ini videonya:


 


(Belakangan saya baru tahu bahwa video ini viral karena beberapa teman blogger menjadikannya bahan postingan blog)

Selesai nonton, saya langsung kasih link videonya ke suami via inbox Fb dan membahasnya. Suami sampai geleng-geleng dan protes kenapa saya pagi-pagi bahas poligami. Padahal kan dia lagi ngurusin kerjaan di kantor. Heuheu..

Yah.. namanya aja perempuan ya. Mana videonya bagus, lagi. Bagus dalam arti berhasil menyampaikan bahkan menularkan perasaan dan bikin banyak orang baper.

Buat saya, video ini membuat saya berpikir (ulang) tentang poligami.


Saya menganggap diri saya adalah orang yang logis dan rasional. Saya orang yang cuek dan jarang masukin ke hati kalau ada orang yang bikin sedih, kesal, marah, kecewa, dan perasaan negatif lainnya. Atasan saya pernah memuji kinerja saya saat saya jadi customer service. Saya lupa apakah beliau menyebutkan alasannya tapi kayaknya sih itu karena saya baik-baik saja dan gak pernah emosi menghadapi konsumen yang bawel, marah-marah, komplain, dan nyebelin. Saya tidak mudah terpancing emosinya *bangga*.

Soal poligami pun demikian. 
Saya mencoba memahami ‘kecenderungan lelaki untuk mendua’. Ini istilah dari Pak Habibie loh. Iya.. salah satu pria paling SETIA se-Indonesia itu! 
Saya juga berusaha mengerti mengapa agama Islam memperbolehkan poligami.

Kalau saya sih ngebayangin..
Siapa yang tahu hati seseorang? 
Bagaimana jika suami saya jatuh hati pada perempuan lain, dan si perempuan juga menyukai suami saya. Saya sih memilih untuk merestui suami saya menikah lagi daripada terjadi hal-hal yang dilarang agama. Just it. Saya menerima poligami dengan alasan yang logis.

Tapi menonton video Ana di atas, membuat saya menyadari bahwa ternyata ada hal lain yang harus saya pertimbangkan
: perasaan saya.

Saya pun lalu mencoba membayangkan, bagaimana perasaan saya jika suami saya poligami?

Gak mudah ngebayanginnya. Nyaris tak terbayangkan. 
Tapi mungkin..
Mungkin..

Mungkin saya tidak akan bisa bersikap mesra seperti saat ini. Karena saya akan merasa cinta saya padanya bertepuk sebelah tangan. Tak berbalas.

Mungkin saya akan sinis jika suami saya mendekati saya. Saya akan bilang, “Ngapain sama aku? Udah sama dia ajaaaa! Da aku mah apa atuh, cuma istri tua kamuuu..!” *nyanyi dangdut*

Mungkin saya akan merasa dia tak akan pernah bisa adil. “Ih kok dia dibeliin laptop juga siih? Yang butuh laptop kan aku. Dia mah udah punyaaa. Mending buat beli susu buat Kakaaaang!”

Mungkin saya akan sedih dan galau saat saya ingin melihat Kakang bermain and have a quality time with his father, tapi abinya malah sedang mengurus anak istrinya yang lain. Huft..

Intinya, kemungkinan besar saya tidak akan bahagia dengan poligami.

Saya tahu bahwa bahagia-tidak bahagia seharusnya tidak jadi tolak ukur. Menurut agama saya, yang harus jadi tolak ukur menjalani hidup adalah ridho Allah, terlepas dari bagaimanapun perasaan kita.

Terus, bagaimana juga kalau ternyata di Lauhul Mahfuz Allah menakdirkan bahwa suami saya memang jodohnya dua? Dua istri dalam waktu yang bersamaan (bukan menikah lagi karena ditinggal mati)?

Hhh.. entahlah. Saya bingung jadinya. Gak tau musti gimana kalau suami saya poligami. Pas saya tanyakan ini pada suami, dia sih jawabnya gini:


Ya sudahlah. Untuk sementara, case closed.

Suamiku, semoga aku cukup untukmu ya..
Aamiiin..

21 komentar:

  1. Hm, curahan hati seorang istri. Ini topik nggak ada habisnya. Nggak berminat review video tandingan nya mba?. Ups. Saya mah nggak sanggup dimadu

    BalasHapus
    Balasan
    1. tentang video balasannya yang tentang bahagia dipoligami, saya sih ikut bahagia saja deh kalau begitu. hehehe

      Hapus
  2. alhamdulilah suamiku bukan tipe pria yang pingin poligami. Pintu surga bisa lewat amalan yang lain bukan hanay amalan mau di poligami saja.Ih membayangkan saja sudah serem!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali itu Mak. Surga banyak pintunya :)

      Hapus
  3. Semoga selalu bahagia :)

    Dan saya pun takingin dipoligami, ga bisa nerima ikhlas kayaknya nih hihih

    BalasHapus
  4. mendengar kata poligami, memang sepertinya momok utk para istri ya... mungkin semua istri di lubuk hati yg terdalam, tidak ingin di poligami

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak, saya yakin setiap istri pasti ingin menjadi satu-satunya di hati suaminya..

      Hapus
  5. aku juga takut, takut kalau hatinya terbagi-bagi.. ketika aku tanyakan pada suamiku malah aku dikasih buku "Istriku seribu" dan sampai sekarang aku belum selesai membacanya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, buku tentang apa itu Mak? Kalau udah baca, tulis reviewnya ya. Hehehe..

      Hapus
  6. Aduuuh... sedih bacanya. Semoga selalu langgeng ya Sinta - Yoga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. terimakasih Teh..

      Moga teteh juga selalu langgeng sama suami.
      Aamiin :)

      Hapus
  7. Poligami itu seperti pintu darurat di pesawat. Dibuka... ya kalau darurat!
    Gitu aja! xixixixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga tidak bertemu kondisi darurat. Selamat dalam perjalanan sampai tujuan, sehat walafiat dan bahagia. Aamiin :D

      Hapus
  8. udah sampai tahap takut di poligami :D sabar mbak, suami istri itu punya tanggung jawab yang sama untuk mempertahankan rumah tangga :)

    BalasHapus
  9. Makk gak pasang GFC ya? Mau tak follow. Biar bisa saling follow follow an kitaa.. Btw aku liat video nya di tv beberapa waktu lalu, miris sih.. Salahkan suami nya seperti itu dan salahkan wanita kedua nya.. Mending kita cari suami baru lagi makk.. Hihihii..

    BalasHapus
  10. emm, klo tanggepan suami pas tak kasih liat video ini komennya cuma 1: lah katanya gak bahagia poligami, la kok masih mau punya anak dari si suaminya itu.

    abis itu kan beritanya heboh bener ya, aku jadi mikir dibalik video ini ada apakah? terlepas dari isi dan kandungan ceritanya ya...

    BalasHapus