Sabtu, 18 Juni 2016

Babymoon ke Candi Cangkuang, Garut

Eh, Sinta babymoon?
Hamil lagi, Sin?

Enggak, heuheu.

Saya cuma ga sengaja lihat foto-foto lebaran tahun 2014 di laptop si adik bungsu. Foto-foto yang lumayan bikin baper karena itu adalah momen yang langka dimana saya, suami, mama, papa, dan ketiga adik saya berkumpul saat lebaran. Kenapa saya bilang langka? Karena kami semua tinggal terpisah. Waktu itu mama papa dan dua adik laki-laki saya di Batam. Adik perempuan saya tinggal di Jakarta. Sementara saya dan suami tinggal di Bandung.

Terus lebarannya di mana?

GARUT

Kenapa bisa di Garut? Karena di sana ada villa, penginapan, dan kolam pemancingan milik kakak sulung mama saya. Kami memanggilnya Uwak. Berhubung saya sudah tidak punya kakek-nenek, Uwak jadi tempat keluarga besar mama saya berkumpul.

Baca : Lokasi Pernikahan: Villa Cipedes, Leles, Garut

Saya - Nurul - Adik - Abang - Papa - Mama - Uwak dan suaminya


Setelah sholat Ied dan foto-foto narsis, saya, suami dan adik-adik main ke sebuah tempat wisata tak jauh dari tempat tinggal Uwak, yaitu Candi Cangkuang.

Candi ini terletak tak jauh dari Alun-Alun Leles. Sekitar 10 menit kalau naik motor atau delman.

Candi Cangkuang terletak di sebuah daratan kecil di tengah danau sehingga untuk menuju ke lokasi candi, kita perlu naik rakit.




Kalau saya baca-baca referensi online tentang Candi Cangkuang di situs Perpustakaan Nasional RI, diduga candi ini berdiri pada abad ke-8 Masehi. Hal ini terlihat dari tingkat kelapukan batuan dan kesederhanaan bentuk yang tidak memiliki relief. Pada pelaksanaan pemugaran candi tahun 1974, hanya ditemukan 40% batuan candi yang asli. Sehingga untuk kekurangannya dibuat dari adukan semen, batu koral, pasir, dan besi.


Tinggi bangunan candi 8,5 m. Di bagian dalam candi, terdapat ruangan kecil berisi Arca Syiwa setinggi 62 cm. Kita hanya bisa melihatnya dari luar karena akses ke dalam ruangan tertutup terali besi.



Tak jauh dari candi ada kampung Pulo yang merupakan pemukiman adat. Pemukiman ini terdiri dari 6 rumah yang masing-masing ditempati 1 kepala keluarga. Jumlah rumah tidak boleh bertambah. Apabila ada anak atau anggota keluarga yang menikah, ia harus meninggalkan kampung dan hanya bisa menempati rumah jika kepala keluarga sebelumnya meninggal dunia. Unik ya?


Entah kapan saya akan ke Garut lagi.

Lebaran tahun ini kami sekeluarga akan berpencar kembali. Mama dan Papa ikut program mudik gratis ke Malang dari kantornya Nurul. Saya akan berlebaran dengan keluarga suami di Sumedang. Mungkin adik-adik saya yang cowok (keduanya sudah lulus SMA) akan ikut Uwak lagi ke Garut. Heuheu..

Uwak selalu terbuka menerima kami di sana. Tapi biasanya kalau weekend, villa dan bungalow Uwak selalu di-booking orang. Selalu penuh. Jadi kalau mau ke Garut pas weekend, kayaknya kami perlu sewa kamar hotel di Garut deh kemudian honeymoon. Booking kamar hotel juga toh gampang banget apalagi kalau via Traveloka. Ada beberapa hotel di Garut yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan.

Baca: Pentingnya suami istri kencan setelah punya anak

Buat yang bingung kalau di Garut mau kemana, bolah banget loh mampir ke Candi Cangkuang. Harga tiket masuknya juga murah, ga sampai sepuluh ribu rupiah. Kita bisa wisata sejarah sambil menikmati pemandangan indah (hey, it rhymes!)

Happy holiday ^^












1 komentar:

  1. Belum pernah ke Garut. Boleh deh dilist kalo nanti ke sana

    BalasHapus