Selasa, 21 November 2017

Mudah Mengurus Izin Usaha dengan SINTA UMKM

Angin sejuk bertiup sepoi-sepoi pagi itu, Sabtu 18 November 2017. Saya dan teman-teman serius menyimak pemaparan tentang SINTA UMKM dalam acara Kampanye Nasional bertema Reformasi Pelayanan Perizinan bagi UMKM Dalam Rangka Peningkatan Daya Saing Daerah.

Acara ini bertempat di Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur (PKP2A) I LAN Kiara Payung, Jatinangor. PKP2A I LAN baru saja menyelenggarakan Reform Leader Academy (RLA) Angkatan VIII, dimana 25 orang peserta tim dari 12 instansi pemerintah berkolaborasi menggagas ide untuk kemajuan bangsa. Secara lebih spesifik, RLA Angkatan VIII ini mengangkat isu tentang kendala UMKM Indonesia dan mencoba memberi solusi, khususnya dalam hal perizinan usaha.


Minggu, 12 November 2017

Blogwalking to Ardiba.com

Hello readers ^^

Biasanya kalau weekend pada ngapain sih? Salah satu kegiatan favorit saya saat santai adalah blogwalking. Weekend kali ini saya jalan-jalan ke blog seorang ibu yang beraktivitas sebagai guru, dan penulis bernama Ardiba Sefrianda.

Blognya yang beralamat di ardiba.com ini desainnya simpel dan cukup nyaman dibaca. 


Tampilan blog Ardiba.com


Kalau melihat halaman About-nya, saya dibuatnya kagum dengan banyaknya achievements dan beberapa buku dimana ia ikut serta dalam penulisannya.

Dari menu blognya, kita bisa tahu topik-topik yang ia tulis antara lain adalah Foodtech, Parenting, Kuliner, Wisata, dan Fiksi. Yuk, kita intip beberapa postingannya :)

Saya mulai dari salah satu postingan terpopuler berjudul 3 Pilar Pendidikan Ki Hajar Dewantara - Peran Ibu untuk Si Pemimpin Kecil. Di sini Mbak Diba menguraikan pengaplikasian 3 pilar pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam mendidik anak laki-laki semata wayangnya, Faris. Bagi saya menarik, karena saya juga ibu dari anak laki-laki (Kakang, 3yo)

Saya sih masih ingat 3 pilar itu meskipun saya mendapatkannya waktu saya SD yaitu:
1. Ing Ngarso Sung Tulodo = Yang di depan memberi contoh
2. Ing Madyo Mangun Karso = Yang di tengah membimbing
3. Tut Wuri Handayani = Yang di belakang memberi dorongan.

Bagaimana memaknai 3 pilar itu dalam mendidik anak? Untuk poin pertama, Mbak Diba berusaha memberikan teladan dalam menjaga hubungan dengan Allah (ibadah), manusia, dan alam. Mengajak anak solat, ngaji, dan zikir. Saling membantu sesama manusia dan menjalin silaturahmi dengan orang lain. Melestarikan alam dengan kebiasaan kecil sehari-hari dengan hemat air dan listrik. 

Well, ternyata tidak mudah ya. Karena untuk memberi teladan yang baik, tentu dari diri kita sendiri harus mampu disiplin melaksanakan semua itu. Tapi harus tetap semangat, karena orangtua pun juga berproses menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Poin kedua dan ketiga detailnya bagaimana? Langsung ke TKP saja yaaa. Xixixi..


Menu lain yang bagi saya menarik adalah fiksi. Di sana Mbak Diba menuliskan rangkaian dongeng Kura-Kura dan Tikus by Faris. Ceritanya lucu-lucu dan sederhana. Bisa banget dibacain untuk pengantar tidur Kakang. Eh, ada juga dongeng tentang jerapah dan gajah. Anak-anak memang paling senang dongeng binatang kan ya.

Di setiap moral juga disisipkan pesan moral yang mudah dipahami. Misalnya dalam cerita Tikus dan Kura-kura Bermain Pasir di Pantai. Meski senang bisa bermain di pantai, tapi kura-kura sedih karena tidak lagi menemukan telur penyu. Padahal, dulu pantai itu adalah tempat bertelur penyu. Pantai sudah terkena pencemaran oleh sampah. Di sini kita bisa menyampaikan pesan bahwa menjaga kebersihan itu penting, termasuk di pantai. Pencemaran sampah bisa merusak ekosistem laut.


Postingan bertopik wisata juga tak kalah menarik. Ada beberapa postingan tentang Jogja yang saya baca. Maklum, liburan ke Jogja jadi wishlist yang entah kapan terwujud. Hahahaha.. Tapi gapapa toh, kalau mau cari-cari info dulu? Di blog Mbak Diba saya dapat info tentang tur sepanjang jalan Malioboro yang disebut Maliobaren, juga review penginapan Pesona Jogja Homestay yang bikin saya makin mupeng travelling ke Jogja.


Selain beberapa postingan di atas, ada banyak postingan lain yang bagi saya menarik tapi akan jadi panjang banget kalau saya tulis di sini satu persatu. Heuheu

So, kalau penasaran langsung aja ke blognya yaa

www.ardiba.com ;)




Sabtu, 04 November 2017

Panti Asuhan Mamah Titin



Kalau lagi ngobrol dengan keluarga saya (papa, mama, adik-adik kandung), saya suka menyebut dengan bercanda bahwa saya tinggal di Panti Asuhan Mamah Titin Sumedang. Kenapa? Karena di Pondok Mertua Indah ini, banyak anak-anak. 
 
Sebenarnya cucu Mamah baru dua yaitu Arul (9 tahun) dan Kakang (3 tahun). Tapi selain suami, anak, menantu, dan dua orang cucu, di sini juga tinggal 3 keponakan Mamah. Ketiganya perempuan kakak beradik. Sebut saja mereka si Sulung (16 tahun), si Tengah (9 tahun), dan si Bungsu (8 tahun).

Bagaimana mereka bertiga bisa tinggal di rumah ini? Well, ceritanya agak panjang. Tapi kalau dipersingkat sih, ayah mereka melepaskan tanggung jawab, dan ibu mereka bekerja di kota Bandung sebagai buruh. Dengan kondisi finansial yang tidak kuat, sang ibu tidak memiliki pilihan lain kecuali menitipkan anak-anaknya ini pada kakaknya, yaitu Mamah mertua saya.

Sebenarnya keluarga Mamah tidak bisa digolongkan sebagai orang berkecukupan. Dulu saat pertama kali mengenal Bapak mertua, pekerjaannya adalah jualan bubur ayam dan soto bongko. Sekarang beliau bekerja di bagian keamanan sebuah instansi.

Mamah sendiri adalah seorang ibu rumah tangga yang sesekali menerima panggilan jasa pijat.
Meski hidup sederhana, Mamah menyanggupi untuk menjaga ketiga saudari ini. Karena kalau bukan Mamah, siapa lagi?
Si Tengah dan si Bungsu berusaha ngambil buah jambu

Kehidupan ketiga bersaudari ini (diusahakan) normal. Mereka bersekolah, bermain, dan mengaji selayaknya anak-anak lain di lingkungan sini. Kalau membandingkan masa kanak-kanak saya dengan mereka, saya jadi merasa amat sangat beruntung sekali. Bisa dibilang masa kanak-kanak saya sangaaaaat sempurna dan bahagia. Sementara saat melihat mereka, kadang saya sedih.  Untunglah mereka masih bisa tertawa lepas khas anak-anak, yang sungguh saya syukuri.

Hal yang membuat saya sedih salah satunya jika makanan yang tersedia tak cukup untuk semua orang. Misalnya kita punya sekerat daging rendang, yang kalau dibagi 9 (Bapak, Mamah, Anak, Menantu, 2 Cucu, 3 Keponakan) maka masing-masing akan mendapatkan ukuran sebesar dadu.
Jadi ya tidak dibagi. Dibiarkan saja utuh atau paling banter dibagi dua. Yang diprioritaskan tentu Bapak sebagai kepala keluarga. Kalau Bapak tidak mau, maka akan diberikan pada cucu-cucu kesayangan. Kalau cucu-cucu tidak mau, ditawarkan pada anak-menantu. 3 keponakan berada di prioritas terakhir. Untunglah bagi mereka bertiga, daging sapi tidak termasuk makanan favorit.

Pernah juga saat Mamah membeli sebungkus nugget ayam ukuran kecil. Kalau tidak salah, isinya 9 pcs. Nugget ini digoreng diam-diam dan habis dimakan Kakang 2 pcs pagi dan 2 pcs siang. Saat malam, saya goreng lagi 2 pcs untuk Kakang. Sisa 3 pcs Mamah sisihkan untuk Arul. Kali ini Si Tengah dan Si Bungsu melihat dan  sebenarnya mupeng banget. Nugget ayam itu adalah kesukaan mereka. Tapi berhubung tidak ada lagi, terpaksalah mereka gigit jari. Perih, Jenderal!
Itu salah satu hal yang bikin saya semangat KB #loh #abaikan.

Soal makanan, mereka didorong untuk menerima apa yang ada. Kalau Mamah masak sayur bayam, maka sebaiknya mereka tidak bikin ceplok telur. Kalau pun boleh masak telur, tidak boleh 1 orang 1 telur, melainkan 2 butir dibuat dadar telur agar bisa dimakan 3-4 orang. Semacam itulah.

Tak hanya soal makanan, soal refreshing juga mereka memprihatinkan. Mereka nyaris tidak pernah kemana-mana untuk berwisata. Pergi ke supermarket atau berenang sebagai pelajaran wajib dari sekolah adalah refreshing yang masih bisa dilakukan, meski termasuk MEWAH BANGET buat mereka (baca: jarang dilakukan). 

Kalau saya kan masih bisa ya kabur ke Bandung hanya untuk refreshing. Tapi mereka tidak. Kadang-kadang mereka minta diajak jalan-jalan ke supermarket tapi itu pun lebih sering tidak dikabulkan daripada dikabulkan. Ya gimana, ke supermarket juga butuh ongkos dan pasti ngeluarin duit. Mereka bisa aja sih window shopping. Tapi kan kasian, masak di supermarket gak beli apa-apa?

Kalau ada kesempatan untuk mereka jalan-jalan atau refreshing, saya dan suami sebisa mungkin mengusahakan. Misalnya saat tahun 2016 lalu suami dan teman-teman menggalang dana untuk mengajak anak-anak di sebuah panti asuhan di Bandung untuk ke bioskop nonton Finding Dori, ketiga bersaudari ini diikutsertakan.

Waktu adik saya menggelar One Day Fun Doing Fun (ODFDF) di Majalengka, kami semua di Panti Asuhan Mamah Titin ini ikut (kecuali Bapak, jaga rumah). Acara yang berisi aneka games seru ini memang rutin digelar dengan lokasi berbeda-beda. Tujuannya adalah untuk menggembirakan hati anak-anak yang kurang beruntung.  Di akhir acara, biasanya anak-anak diberi goodie bag menarik dan sedikit santunan.

Saat itu, ketiga bersaudari pulang dengan hati riang, perut kenyang, dan masing-masing mendapatkan alat tulis lucu-lucu, Al-Quran, dan uang.


Kalau kami ada rezeki lebih, tentulah ingin mengajak mereka refreshing lagi. Bagi saya pribadi, mereka bertiga udah kayak baby sitter-nya Kakang. Mereka lah yang sering menemani Kakang bermain, bahkan si Bungsu paling suka menawari (seringkali memaksa) untuk menyuapi Kakang. Heuheu

Ngajak mereka jalan-jalan pun sebenarnya ga harus jauh. Berhubung di Sumedang jarang tempat wisata, saya pikir Bandung adalah kota yang ideal karena dekat dan biaya transportasinya masih terjangkau.

Bandung punya banyak sekali pilihan wisata. Beberapa tempat terpopuler yang saya tahu misalnya D’Ranch, Farmhouse, Dusun Bambu, Trans Studio, Saung Angklung Udjo, Dusun Bambu, dan baaanyak lagi. Ssst, saya baru tahu loh kalau semua yang saya sebutkan itu tiket masuknya bisa dibeli di Traveloka.

Selama ini saya tahunya Taveloka hanya untuk pesan hotel dan pesawat aja. Eh ternyata sekarang ada menu Attractions & Activities dimana kita bisa beli tiket wisata, event, kuliner hingga massage package. Uwow!



Fitur filternya memudahkan kita mencari pilihan aktifitas dan atraksi. Bisa filter berdasarkan popularitas, harga, durasi, rating pengguna, hingga jenis aktifitas.





Itu kalau nama activity/attractions-nya di klik, kita bisa melihat detail keterangannya seperti foto-foto, jam buka, perkiraan durasi yang kita butuhkan untuk main, lokasi, dan juga highlights yang membuat kita bisa membayangkan bakal seseru apa kalau kita main di sana.

Asik ya, jadi ga usah mikir harus ngantri panjang di loket, kita udah bisa masuk deh ^^

Oh ya, tiket yang kita beli dari Traveloka ini paperless. Ga perlu di-print jadi ga ribet dan ga nyampah. Yeay!

Hemm, kira-kira enaknya ngajakin mereka kemana ya?









Kamis, 26 Oktober 2017

Menyelami Dunia Remaja di Film My Generation

Halo Maak..

Kapan terakhir kali nonton bioskop?

Sebagai emak-emak dengan 1 balita, saya suka mikir-mikir kalau ke bioskop. Di usia 3 tahun, Kakang udah 3 kali ke bioskop dan relatif terkondisikan. Tapi tetap saja pernah ada saat dimana dia ga betah dan minta keluar studio. Jiaaah kan rugi yak, meskipun cuma beberapa menit keluar, jadinya ketinggalan beberapa adegan.

Meski begitu, saya tetap suka mupeng kalau ada film-film baru di bioskop. Khususnya film Indonesia. Sebagai mantan filmmaker yang nasionalis (halah), saya selalu ingin mendukung film Indonesia dengan menontonnya di bioskop. Apalagi semakin kesini film Indonesia semakin bermutu. Tak melulu film horor yang menjual sensualitas.

Buat yang suka nonton bioskop, atau malah udah lama ga ke bioskop kayak saya, tahu gak sih beberapa hari lagi akan rilis film Indonesia terbaru?

Sabtu, 21 Oktober 2017

Kakang 3 Tahun, YEAY

OMG..

Kerasa banget waktu cepat berlalu. Perasaan kemarin dia masih nenen, masih merangkak-rangkak, sering jatoh saat belajar jalan, pernah sampai benjol 3 di kening. Huahahahahaha

Sekarang? Wuiiiih..

I'm so proud


Sabtu, 14 Oktober 2017

Modus Penipuan dengan E-Cash Mandiri Mengatasnamakan Grab



Malam itu di Sumedang. Suami mengaktifkan aplikasi Grab Drivernya. Ia memang menjadi driver ojek online untuk pekerjaan sampingan selain jadi karyawan sebuah perusahaan di Bandung.

Sebenernya di Sumedang masih amat jarang orang yang menggunakan Grab. Terkadang sehari cuma ada 1 penumpang. Kadang tak ada sama sekali. Padahal itu weekend, yang kalau dibandingkan Bandung pastilah sangat jomplang. Ya iyalah yaa
Hapenya berbunyi pertanda ada calon penumpang. Beberapa detik setelah ia terima, ada telepon masuk. Suami kira dari penumpang. Ternyata bukan.

"Mas, bisa telepon satu jam lagi gak ya? Saya baru nerima orderan nih.." begitu ucapan suami kepada sang penelepon.

Sepertinya sang penelepon menolak, sehingga suami lanjut mendengarkannya.
"Oh.. update terbaru ya? Hm.. begitu? terus..?"
Kalau saya nguping sih, sepertinya peneleponnya dari Grab.

Beberapa menit kemudian suami menghampiri saya,

"Mi, minta nomor rekening Mandirimu.."
Weits.. asik ada yang mau transfer! pikir saya.

"Bentar ya Mas, saya ga hapal nomor rekeningnya." sahut suami pada si penelepon. "Oh? Gak perlu ya? Gpp? Ya udah.."

Haaaa? Alarm di kepala saya berbunyi. Bagaimana cara orang mau transfer tanpa tahu nomor rekening tujuan? Saya langsung teringat modus penipuan menggunakan e-cash Mandiri. Sering banget baca cerita seperti itu. Dan.. oh iya, bukankah official Bank untuk Driver Grab adalah CIMB Niaga?

Lebih curiga lagi saat suami mulai  mengeluarkan motor dari dalam rumah.

"Mau kemana?" tanya saya.
"Ke ATM."
"Bisa ceritain dulu gak ini soal apa?"

Dia hanya mengedipkan mata sambil tersenyum. 
Telepon masih terhubung.
FIX.
Saya yakin 100% si penelepon sedang mengarahkan suami untuk transfer uang padanya.
Berhubung suami tampak terburu-buru, saya tidak sempat ngomong apapun kecuali, 
"Hati-hati.."
Satu-satunya yang membuat saya gak terlalu galau adalah..
Rekening Mandiri yang kartu ATMnya dipegang suami itu isinya KOSONG. Heuheu
Maklum udah lama gak dipake.

Menit demi menit berlalu. 
Waktu berjalan terasa amat lambat.
Kemudian turun hujan. 
Menambah suasana semakin gelap.

Bapak mertua menghubungi nomor suami berkali-kali, tidak diangkat.

Sekitar 10-15 menit kemudian suami kembali, kehujanan.

"Ternyata penipuan." begitu kalimat pertamanya.
"Tuh kaaan!" saya berseru. "Duit ada yang ilang?"
"Enggak.." jawabnya.

Kemudian ia ceritakan detailnya, bahwa si penelepon mengaku dari Grab. Katanya, untuk orderan yang suami confirm barusan, tidak apa-apa di-cancel. Tidak akan mempengaruhi performance

Dengan panjang lebar si penelepon menginfokan bahwa Grab memiliki program baru yaitu PayPro, dimana Grab akan memberikan bonus dari awal Driver bergabung sampai sekarang. Bonus ini harus diberikan per tanggal 30 (Saat itu tanggal 30 September). Kalau tidak, bonus akan hangus dan akun driver akan di suspend.

Ancaman suspend membuat suami terus mendengarkan apa yang penelepon katakan. Suami awalnya agak percaya. Namun saat akhirnya si penelepon mengarahkan untuk ke ATM, di situlah suami sadar bahwa ini tidak benar.

Meskipun begitu, suami penasaran dengan modus si penelepon. Suami mencoba mengiyakan semua instruksi, hingga pergi ke ATM. Di ATM, suami pura-pura melaksanakan instruksi si penelepon. Sengaja ia berkali-kali gagalkan transaksinya, yang membuat si penelepon marah-marah, “Yang bener dong Pak!”

Dari instruksi penelepon, suami jadi tahu tentang E-cash Mandiri, dimana kita bisa mentransfer uang ke nomor hape. Kalau saya googling sih, pemilik nomor hape bahkan tidak perlu memiliki rekening di Bank Mandiri untuk memanfaatkan E-Cash ini.

Long story short, suami kemudian menutup telepon dan menghubungi Grab pusat. Grab pusat mengonfirmasi bahwa itu adalah penipuan.

Si Penipu Gagal berusaha menghubungi lagi namun suami abaikan. Ia juga mengirim pesan berisi kata-kata kasar dan amarah. Bahkan mengancam akan memblokir Grab ID suami. Suami hanya tertawa dan mempersilakan penipu untuk memblokirnya.


---

Berat amat yak jadi ojek online (ojol).
Udahlah dijadikan target penipuan, eh sekarang ada kemungkinan dilarang beroperasi oleh Dishub Jabar.
Bagaimanapun, kami bersyukur Allah masih melindungi, dan semoga selalu melindungi.

Be careful, guys!

Sabtu, 23 September 2017

Blogwalking To DwiPuspita.com

Jalan-jalan di dunia maya kali ini bertujuan ke rumah maya seorang ibu muda yang berdomisili di ibu kota provinsi Jawa Timur. Blogger Surabaya ini bernama Dwi Puspita. Ia adalah ibu rumah tangga yang kesehariannya dipenuhi aktifitas mengasuh anak, mengurus rumah, ngeblog, hingga berkebun.


Tampilan blog DwiPuspita.com

Blog bertema Life Style ini memuat aneka topik yang diminatinya. Dari menu blognya, terlihat beberapa hal yang ia suka tulis adalah tentang kuliner, travelling, review, event, kucing, hotel, Surabaya, dapur, kehamilan, dan diet.

Buat saya, yang paling menyentuh adalah tentang pengalamannya menantikan sang buah hati. 2 tahun 9 bulan baginya sangat lama. Ia (dan suami) ikhtiar dengan beragam cara. Dalam postingan 9 dari 10 Perjalanan Program Kehamilanku Mbak Dwi menguraikan aneka bentuk ikhtiar, terutama makanan-makanan yang dikonsumsi selama program hamil (promil). Mulai dari konsumsi susu, madu, kurma muda, jamu, jeruk, kecambah, kacang-kacangan, brokoli, hingga salmon. Konsultasi medis, berdoa, dan bersedekah pun dilakukan.

Alhamdulillah penantiannya pun berakhir indah. Ia dan suami dikaruniai seorang anak laki-laki yang Desember 2017 nanti insya Allah akan menginjak usia 2 tahun. Semoga selalu sehat ya Dik Ayman sekeluarga. Aamiin :)

Saya suka beberapa tulisannya dalam kategori travelling terutama yang tentang Bali. Misalnya postingan Jalan-Jalan ke Pantai Pandawa Bali. Meski pernah ke Bali, tapi baru tahu tentang adanya Pantai Pandawa ya dari postingan ini. Saya mah tahunya Kuta dan Jimbaran doang. Heuheu

Dari postingan itu saya lanjutkan ke postingan tentang sewa motor di Bali. Siapa tahu kan kapan-kapan kalau keluarga kecil kami ke Bali, bisa jalan-jalan pakai motor juga yang tentunya akan lebih mudah kemana-mana, nyelap-nyelip di jalan, dan dengan budget yang pasti lebih terjangkau daripada nyewa mobil. Kalau mau ke Bali kudu nyempetin bongkar-bongkar blognya Mbak Dwi nih, mantap banget infonya. Kayaknya setiap tempat yang ia kunjungi dibuat postingan sendiri, jadi kita mudah mencari info dengan melihat dari judulnya.

Saya juga menemukan tulisan soal info penyewaan sepeda di Ubud. Eh tapi kalau bawa balita, masih bisa sepedaan gak ya? Ribet tar ngeboncengnya. Hihihi

Bukan cuma tempat wisata. Mbak Dwi juga suka menulis review tempat penginapan yang recommended, lengkap dengan detail foto-fotonya. Misalnya saat ia menulis tentang Siesta Legian Hotel (September 2016). Ia melampirkan foto arena bermain anak yang bikin saya mupeng pengen ke sana. Maklumlah emak-emak dengan balita. Tiap mau jalan-jalan pasti selalu ingin memastikan tempatnya ramah anak atau tidak.

Review kuliner juga banyak saya temukan, terutama di kawasan kota Surabaya. Saya suka dengan pilihan tempatnya yang cukup 'merakyat'. Hehehe

Tahu kan, biasanya orang banyak mereview restoran-restoran yang Instagramable yang harga makanannya selangit (menurut dompet saya). Tapi Mbak Dwi saya lihat justru banyak mereview kuliner skala menengah seperti bakso, terang bulan dan cwimie, juga inovasi kuliner dari UKM-UKM yang memang perlu didukung promosinya seperti Siomay Mercon dan Cake In Jar ZNI. 

Saya angkat jempol untuk Mbak Dwi yang tidak seperti saya rajin kulineran dan menuliskannya di blog. Memang idealnya blogger mengambil peran sebagai pendukung dan promotor UKM-UKM, sehingga para produsen makanan ini jadi terdorong penjualannya dan meningkatkan iklim usaha *halah bahasamu kok jadi berat Sin.

Yang mau bongkar-bongkar blognya, yuk ah cuss ke TKP ^^


Kamis, 21 September 2017

Harga? Inbox ya Cyin!

Di timeline saya lagi ramai soal 'haramnya' menjawab pertanyaan konsumen (tentang harga) via inbox FB.

Yah, sebenarnya kalau balik ke diri sendiri, apakah saya lebih suka orang lain memajang harga di status? Jawabannya adalah YA. Saya suka kalau orang yang jualan langsung pasang harga aja, sehingga dalam sekali baca bisa langsung saya putuskan apakah saya akan beli atau tidak, atau masuk wishlist. Ga pake kepo-kepoan.

Tapi berhubung saya juga menggunakan FB sebagai personal branding sebagai Mompreneur (yang jualan), saya sangat paham mengapa sebaiknya orang yang berminat beli produk dan ingin tanya-tanya lebih lanjut (termasuk harga) sebaiknya dilakukan via inbox.

Ini alasannya:

1. Facebook memiliki aturan tertulis tentang larangan menggunakan akun FB personal untuk jualan

Iya, Om Mark bilang akun FB tidak boleh untuk jualan. Karena itulah dia ciptakan Facebook Page (dikenal juga dengan istilah Fanpage atau FP) untuk kebutuhan komersil.

Kalau kita bandel dan tetap pasang harga di status, siap-siap aja kena hukuman. Apakah akun kita akan di-suspend atau akan diubah sekalian jadi FP, saya kurang tahu (dan saya ga mau mencobanya).

2. Menghindari Pelakor
Istilah ini lagi ngetrend juga nih. Makna sebenarnya Perebut Laki (suami) Orang. Tapi yang saya maksud di sini adalah Pengganggu Lapak Orang. Contoh kasusnya gini,

Misal saya pajang foto jualan saya yaitu mukena lucu bergambar jamur ini.

Product detail : IG @BajuKokoAnak


Kemudian di bagian komen ada Bunda Syahrini bertanya, "Untuk usia 7-9 tahun harganya berapa?
Kalau saya jawab di bagian komentar (bukan di inbox), "200 ribu bun," maka ada kemungkinan Pelakor melihat, lalu meng-inbox Bunda Syahrini dan bilang, "Mending di saya Bun belinya. Di saya mah jualnya 180 ribu aja. Mayan hemat 20 ribu dibanding beli di Sintamilia."

Ngeselin ga tuh?
Padahal 200 ribu itu harga retail resmi dari Produsen dan dengan harga segitu juga untung saya gak banyak #lahjadicurhat.


3. Supaya bisa ngobrol lebih bebas

Siapa tahu calon pembeli benar-benar tertarik dan selain mau tanya harga dia juga mau nanya bahan, asal pengiriman, ongkir dan lain-lain. Melalui inbox juga penjual bisa menjawab dengan lebih personal. Bisa ngobrol ngalor ngidul yang mana gak perlu lah se-antero FB bisa nyimak ngalor ngidulnya. Heuheu..

..dan tentu saja, melalui inbox calon pembeli dan penjual kadang bisa tawar-menawar harga yang pasti kecil kemungkinannya bisa dilakukan di ranah publik (di bawah status atau di kolom komentar).


Demikianlah 3 alasan mengapa penggelar lapak di FB personal senang mengajak calon pembeli untuk chatting via inbox. Mohon dimaklumi yaaa ^^

Saya seneng loh kalau ada yang minat produk saya dan bertanya-tanya. Saya sangat welcome dan gapapa banget meski calon pembeli nanya-nanya doang dulu. 

Bertanyalah Mak, karena BERTANYA itu GRATIS. Siiiip? ;)

Sabtu, 26 Agustus 2017

Inspiratif! Buku 30 Paspor Di Kelas Sang Profesor

Telat banget dah saya baca buku ini. Cetakan ke-4 tahun 2015, saya bacanya Agustus 2017. Mungkin mahasiswa yang ceritanya ada di buku ini udah pada lulus semua. Heuheu

Sumber gambar: Bentang Pustaka

Sungguh beruntung mereka yang diajar oleh Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. Beliau sangat paham bahwa metode belajar terbaik adalah dengan ‘terjun’ ke lapangan. 

Kalian harus nyasar biar belajar. Begitu salah satu nasehatnya. Maka di mata kuliah Pemasaran Internasional yang ia pegang, seluruh mahasiswa diberi tugas untuk pergi ke luar negeri sendirian. Negara yang dikunjungi tidak boleh berbahasa melayu seperti Malaysia, Singapura, Timor Leste dan Brunei Darussalam. Beneran disuruh nyasar ini mah. Hihihi..

---
“Ma, gimana kalau Abang atau Adek ditugasi dosennya untuk keluar negeri sendirian?” tanya saya pada Mama, meminta ia membayangkan kalau 2 adik termuda saya yang kini berstatus mahasiswa, harus melancong jauh.

“Wuaaaa.. nangis Mama,” jawabnya spontan :D

Xixixi, padahal adik-adik saya itu laki-laki loh. Coba bayangkan kalau anaknya perempuan, satu-satunya pula. Pasti lebih berat lagi.

Izin orangtua bisa jadi kendala bagi mahasiswa. Kendala lain misalnya saat pengurusan visa, mencari tiket dan penginapan, mengumpulkan biaya, dan tentu saja bahasa.

Membaca buku ini seperti membaca buku petualangan. Ditulis dengan sudut pandang orang pertama, saya jadi terbawa deg-degan, takut, penasaran, hingga haru.

Dari 30 pengalaman mahasiswa di buku ini, favorit saya adalah cerita Destiara Putri yang pergi ke Filipina. Gaya penulisannya runtut dan sinematis, sepertinya dia punya jam terbang yang tinggi dalam menulis *sotoy*. Hal spesial lainnya adalah di saat mahasiswa kebanyakan menginap di hotel, dia memilih nginap di rumah penduduk karena gratis. Ya, dia termasuk mahasiswa yang sebenarnya have no budget for travelling. Tapi dengan izin Allah serta dukungan keluarga, toh dia tetap bisa pergi juga bahkan mendapatkan keluarga baru di Filipina. 

Hal menarik lainnya adalah pengalaman Ananda Rafi yang pergi ke Dubai. Di pesawat dia duduk di dekat sepasang suami istri Arab, yang mana suaminya itu keberatan dengan adanya laki-laki asing yang duduk di dekat istrinya. Protektif sekali yak. Belakangan saya tahu bahwa kebanyakan orang Arab seperti itu. Wanita Arab juga tak nyaman duduk sebelahan dengan pria non muhrim di pesawat.

Pengalaman Aland di India juga menarik meskipun banyak gak enaknya. Tapi saya ga mau spoiler lagi deh, biar yang belum baca bisa cari sendiri bukunya yak.

Salut banget deh sama semuanya. Semoga suatu hari nanti bisa ke luar negeri juga. Tapi ogah kalau sendirian. Udah punya suami ya mesti bareng dong ;)





Sabtu, 29 Juli 2017

Kakang 2 Tahun 9 Bulan : Perjuangan Mengurangi Screen Time

Kakang tuh dulu tiada hari tanpa youtube-an di HP saya.

Apaaaa? Batita udah dikasih main HP?

Ya, ya, saya tahu itu sebaiknya tidak dilakukan. Tapi gimana yah, bukankah itu yang paling mudah membuat anak tenang? *plak!

Tenang, saya bukan ibu yang membiarkan dia main HP berjam-jam sepuasnya kok. Kenapa? Ya karena HP saya cuma 1 dan saya perlu banget buat jualan online Sis. Jadi saya lumayan sering rebutan HP dengan Kakang dengan bilang, "Ummi pinjam dulu ya HP nya. Lihat nih ada yang mau beli bajuuu.."
kemudian Kakang nangis kejer sampai nenek kakeknya pada heboh, "Kakang kenapaaa..?"
Saya jawab aja santai, "Rebutan hape sama umminya.." heuheu

Saya biasanya memilih video yang menurut saya bagus dan edukatif untuk Kakang di Youtube, mendownloadnya, sehingga kalau Kakang ingin nonton langsung saja saya sodorkan list dalam album offline

Tapi itu dulu.

Sekarang jemari Kakang sudah terampil geser-geser, scroll-scroll, tak hanya memilih video di album offline tapi juga dia udah bisa nonton STREAMING.

OH NO!

Awal-awal sempat saya biarkan. Saya pikir, ah tar kalau habis kuota beli kartu perdana aja yang kuotanya (konon?) lebih murah.

Sampai suatu ketika saat tanggal tua (baca:bokek) kemudian kuota habis, saya pun baper. Gak bisa gini terus nih. Kalau kuota habis dan ga ada duit buat beli, kasihan dong para customer yang nyariin saya *aih

Akhirnya saya bertekad: Kakang harus berhenti nonton di HP saya!

Berhentinya langsung total, gak bertahap seperti saat saya menyapihnya.

Baca : Berhasil Menyapih dengan Brotowali

Saat dia bilang, "Mi, Kakang boleh nonton HP Ummi?"

Saya jawab tidak.

Ia sempat merengek. Tapi saya bergeming.

Untungnya sih ga sampai tantrum atau nangis kejer. Hari pertama dia sempat 3x minta HP tapi saya tolak terus. Hari kedua dia minta sekali, saya tolak lagi. Hari ketiga dan seterusnya dia gak minta HP saya lagi. Mungkin dia mulai mengerti.

Udah gitu doang. Ga seru amat ya dramanya? Hihihi
Tapi buat saya ga semudah itu. Bagian paling berat adalah agar Kakang tidak tertarik dengan HP saya, saya pun harus berusaha agar Kakang tidak melihat saya main HP mulu. Ini beraaaaat.

Kadang saya harus sembunyi. 
Kadang saya chatting dengan konsumen dengan HP ditutupi bantal. 
Kadang mengecek HP di rak atas, dimana masih terjangkau tangan saya tapi gak terjangkau mata Kakang.
Kalau Kakang ngajak main, saya harus segera 'lompat' dan melepaskan HP.

Tapi endingnya menyenangkan karena saya ga manyun lagi soal kuota :))


Terus sebagai pengganti main HP, Kakang ngapain?
Nonton di laptop * jiaaaah screen time lagi dong!

Tapi di laptop itu koleksi videonya membosankan, plus udah kebanyakan data (atau mungkin keberatan aplikasi) sehingga lemoooot banget. Jadi kalau Kakang lagi nonton, loadingnya lama dan suka macet di tengah-tengah kayak nonton dari CD bajakan.  
Ngeselin kan? Kalau Kakang udah kesel langsung saya matikan dan singkirkan aja laptopnya. Alihkan dengan kegiatan lain.


Kalau soal menonton, sebenarnya paling enak tuh nonton TV. Ga pake kuota, ga macet-macet, bahkan kalau ada iklan pun Kakang udah bisa maklum dan menunggu dengan sabar. Sayangnya (dan untungnya) pilihan tontonan dia sangat terbatas. Cuma Ipin-Upin, Shaun The Sheep, dan Tayo. Praktis Kakang paling cuma nonton TV pas pagi setelah mandi dan sarapan, serta sore menjelang maghrib.

Tapi someday saya ingin kami hidup tanpa TV.


Anyway, enaknya ngasih aktivitas apa ya untuknya sebagai pengganti screen time? ada ide?