Kamis, 20 September 2018

Ternyata Begini Rasanya Memarahi Anak

Judulnya udah cocok belum ya buat pencitraan kalau saya jarang marahin anak? Hwkwkwkwk

Eh tapi beneran deh. Saya suka baca curhatan Emak-Emak di medsos yang mereka marahin anak (balita) terus nyesel. Terus besoknya marah-marah lagi, terus nyesel lagi. Repeat.

Saya merasa kurang relate karena kalau dipikir-pikir, kapan ya saya marahin Kakang? Beneran jarang deh. Seminggu sekali aja belum tentu.

Setelah saya menelaah (halah) lebih dalam, sepertinya karena saya BERUNTUNG memiliki banyak faktor yang mencegah saya untuk mudah marah pada anak. Ini beberapa diantaranya:




KEPRIBADIAN PLEGMATIS

Buat yang belum tahu, kepribadian manusia ada yang tipe Koleris, Sanguinis, Melankolis, dan Plegmatis. Googling aja ya detailnya.

Saya copas satu paragraf saja dari Dosen Psikologi


Orang dengan tipe plegmatis akan menjadi orang tua yang baik, selalu menyediakan waktu untuk anak- anaknya, tidak tergesa- gesa, tidak mudah marah dan cenderung selalu sabar- sabar saja dengan kondisi apapun, bisa mengambil yang baik dari yang buruk.
    Wuiiiih bener-bener gue banget tuh. HAHAHAHA

    Lebih 'parahnya' lagi, sebagian besar anggota keluarga lain (terutama di circle terdekat) juga kayaknya tipe plegmatis. Ayah saya, ibu mertua saya, adik saya, adik ipar saya. Banyak lah. Jadi memang kondisi rumah biasanya aman tenteram damai sentosa. Kalau ada yang marah pasti akan sangat menarik perhatian. Padahal orang tipe plegmatis tidak suka jadi perhatian.


    ANAK PENURUT DAN PEKA

    Biasanya yang memancing Emak-emak ngomel itu kan perilaku anak yang mungkin nakal, bandel, sulit diatur, ga mau nurut, atau suka melawan. Nah, Kakang mah ga gitu. Dia benar-benar anak paling manis sedunia (menurut ibunya).

    Kakang relatif penurut (meski seiring bertambah usia, dia udah mulai bisa bikin alasan atau membela diri). Dia ga suka membuat ibunya marah.

    Dia juga peka dengan emosi ibunya. Saya mendengus saja dia tahu kalau saya kesal. Saya berkacak pinggang, dia tahu saya marah bahkan meski ekspresi saya datar (ga pake melotot) dan saya tidak mengeluarkan sepatah katapun.

    Dia sering mencium dan memeluk saya, sering mengatakan, "Aku sayang loh sama Umi," dan "Kita bersahabat." Bagaimana saya bisa marah dengan anak se-romantis ini? Dia membuat hati saya meleleh most of the time.

    Kok bisa Kakang penurut? Entahlah. Sepertinya karena kuasa Allah saja.


    ANTI KELAPARAN

    Saya setuju banget sama iklan yang bilang, "Karena lapar mengubah orang."

    Saya sabar dan pendiam, tapi itu bisa berubah kalau saya lapar. HAHA

    Ajaib ya, kalau lagi puasa, lapar itu menghilangkan tenaga untuk marah. Tapi kalau lagi gak puasa, lapar malah jadi bahan bakar yang bisa bikin saya meledak #lebay.

    Saya bisa jadi bawel banget, manyun, misuh-misuh, maksa-maksa suami untuk keluar beliin makanan. Ga akan berhenti sampai perut ini terisi. Cemilan udah jadi kebutuhan primer. Kapan saja dimana saja, harus ada stok cemilan. Snacks always can save the day.


    TIDAK TERLALU CAPEK

    Secara finansial, saya bukan #CrazyRichIndonesians yang bisa bermewah-mewah. Tapi ternyata saya masih punya satu kemewahan yang tidak semua ibu memilikinya : kebebasan waktu.

    Saya tidak kerja kantoran yang terikat jam kerja 9-5.

    Saya hampir 24 jam sehari/7 hari seminggu di rumah, ga perlu bermacet-macet ria.

    Saya tinggal di rumah yang selain saya ada anggota keluarga perempuan lain yaitu ibu mertua, adik ipar, dan TIGA orang sepupu usia SD-SMA. Untuk ibu dengan satu anak, bisa dibilang saya kebanyakan asisten :))

    Terkait dengan poin di atas, literally saya bisa tidur seharian tanpa ngurus anak (dan rumah) sama sekali. Kurang mewah apa coba? *abaikan isi dompet.

    Intinya, saya bisa mengatur kondisi badan agar tidak kelelahan. Saya tidak bisa bayangkan kalau tinggal sendiri, ngurus dua balita tanpa ART, suami kerja di luar pulau or semacamnya. Untuk hal ini saya rela mengaku bahwa saya bukan emak setrong. 



    SUAMI SUPORTIF

    Setelah anak, suami adalah 'Pemadam Kebakaran' kedua saya. Dia suka bilang, "Jangan marahin Kakang..". Dia menengahi dan mengambil alih Kakang saat hati saya kurang kondusif.

    Kalau Kakang teriak minta perhatian dan saya (sengaja) tidak muncul, tahulah suami bahwa dia harus turun tangan menemani Kakang.

    Dia maklum kalau saya ngomong, "Kakang sama Abi dulu ya.."

    Dia maklum jika rumah tak selalu rapi.

    Dipikir-pikir, sama seperti Kakang, suami berusaha agar saya tidak marah.

    Soal keromantisan, jelas Kakang meniru Abinya. Susah loh marah sama orang yang memperlakukan kita dengan baik dan manis.


    Kembali lagi ke judul.

    Beberapa hari yang lalu saya marah-marah pada Kakang. Padahal ia tidak bersalah, cuma butuh waktu agak lama untuk tidur. Saya pengen dia segera tidur karena saya udah ngantuk berat.

    Kakang minta matikan lampu. Oke.
    Terus dia minta dibikinkan susu. Saya nyalakan lagi lampu.
    Selesai dia minum susu, saya matikan lampu lagi.
    Terus dia bilang mau sikat gigi dan pipis. Bagus sih, tapi saya udah badmood. Saya anterin ke toilet sambil nahan kesal.
    Kembali ke kasur, saya kira dia udah siap tidur. Eeh dia garuk-garuk kulitnya.

    Mengetahui saya mulai terganggu, Kakang berusaha membela diri. Biasanya dia bilang gini, "Aku ga tahu kenapa aku gatel.." seolah ingin menunjukkan bahwa ia tidak sengaja ingin mengusik saya.

    Tapi kali ini saat dia bilang, "Aku ga tau..." langsung saya potong dengan hardikan, "UDAH GA USAH NGOMONG LAGI. BERISIIIK!"

    Dan Kakangnya langsung nangis kejer (ya iyyalah). Nangis meraung-raung sampai batuk-batuk. Setelah saya olesi kulitnya dengan salep, saya sempet bilang, "Udah ga usah nangis. Tuh kan jadi batuk.". Kakang pun langsung sesegukan aja (tuh kan dia nurut). Sedetik kemudian saya elus punggungnya dan ajak pelukan. Mewek lagi dia tersedu-sedu :'(

    Kakang patah hati. Saya juga. Belum pernah saya menyakiti perasaan Kakang seperti itu sebelumnya. Saya jadi ikutan mewek dan minta maaf berkali-kali sama Kakang. He really doesn't deserve this. Kakang memaafkan.

    Gak lama, Kakang tertidur.

    Saya yang udah mulai tenang, nge-WA suami tentang drama yang barusan terjadi. Dia lalu datang dan memeluk saya. Mewek lagi dah T_T

    Lebay banget ya. Tapi untuk seseorang pecinta damai dan anti konfrontasi, ini sesuatu banget buat saya. Not so me.

    Semoga tak perlu terjadi lagi ke depannya.

    Saya cinta dengan hari-hari yang berlalu dengan tenang tanpa teriakan dan tangisan.











    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar