Rabu, 20 Februari 2019

Menjadi Guru Ngaji


Saya sedang menyuapi Kakang saat anak-anak tetangga datang untuk mengaji. Biasanya yang mengajari mereka adalah ibu mertua saya. Tapi kali ini ibu mertua meminta saya menggantikannya karena beliau sedang sibuk.

Hemm.. Baiklah.

Dari gelagatnya selama beberapa minggu terakhir, sepertinya ibu mertua ingin saya jadi pengajar utama untuk seterusnya. Beliau tahu gak ya kalau saya masih bergulat dengan motivasi internal?


Saya tahu sih mengajarkan Al-Quran itu pahalanya besar dan bisa jadi amal jariyah alias passive income akhirat. Tapi haruskah?   
                                                 
Empat anak tetangga yang hadir hari ini, saya belum pernah bertemu orangtuanya. Saya penasaran apakah orangtua mereka ada keinginan untuk bertemu saya, ‘mewawancarai’ saya dan menilai apakah saya punya kualitas yang mumpuni untuk mengajari anak-anak mereka ngaji?

Saya punya sifat minder. Soal membaca Al-Quran, kemampuan saya pas-pasan. Saya ga bisa membaca Al-Quran dengan irama syahdu seperti ayah saya apalagi seperti hafidz Muzammil Hasballah.
---

Sambil menyuapi Kakang, saya ajak mereka ngobrol dan saya tanya tentang hal yang belum saya tahu: keluarga mereka.

Seorang anak laki-laki kelas 4 SD, sebut saja Ridwan, orangtuanya berpisah. Ridwan tinggal bersama ayahnya. Ibunya tinggal di kota sebelah. Ridwan dan ibunya hanya bertemu setiap weekend.

Dua anak perempuan kakak beradik, sebut saja Ara (kelas 4 SD) dan Agil (sekitar 6 tahun), ibu mereka telah tiada.

Satu anak perempuan kelas 3 SD bernama Euis (bukan nama sebenarnya), ayahnya penjual tahu dan ibunya kerja di perusahaan tekstil di Rancaekek. Lumayan jauh tuh dari Sumedang.

Melihat latar belakang empat anak ini (dan beberapa anak lainnya), saya dapat benang merah : Orangtua mereka (terutama ibu) tidak punya banyak kesempatan mengajari anak-anaknya mengaji. 

Sekarang saya tahu mengapa orangtua anak-anak ini seperti terkesan tak peduli dengan kemampuan saya. Bagi mereka mungkin yang terpenting adalah di rumah ini ada orang yang bersedia mengajari anak-anak mereka ngaji setiap hari tanpa mereka perlu membayar biaya sepeserpun. Itu saja sudah cukup.
---

Meski obrolan dengan anak-anak sudah selesai, Kakang belum juga selesai makan. Akhirnya saya minta Kakang membawakan buku Nabiku Idolaku Balita untuk anak-anak ini baca sambil menunggu. Kakang pun mengambil secara random 4 buah buku dan membagikannya pada teman-temannya, satu orang satu buku. Mereka saling bertukar buku begitu selesai membaca.


---
Kegiatan mengaji hari ini diawali dengan membaca Al-Fatihah, doa menuntut ilmu, dan membaca Iqro/Alquran secara perorangan. Setelah semua anak mengaji, saya bacakan cerita Nabi Isa A.S dari buku.

“Teteh, sekarang aku udah tahu 5 nama Nabi. Muhammad, Yahya, Yusuf, Isma’il, Isa.” Ucap Ara tanpa saya tanya. Dari caranya menyebutkan nama-nama nabi, terlihat baru saja ia menghafalnya.

“Yang tadi kamu baca?”
“Iya.”
“Baru lima? Dari 25 Nabi?”
Dia mengangguk sambil tersipu.
“Ya udah nanti insya Allah aku ceritain semua ya. Hari ini satu dulu. Nanti yang lain lagi..”
Anak-anak pulang setelah membaca beberapa surat pendek bersama-sama.
---

Saya adalah anak beruntung yang tumbuh dengan perhatian berlimpah dari ayah ibu, dan hidup nyaman serta menyenangkan ditemani banyak sekali buku.

Mungkin ini adalah kesempatan buat saya untuk melakukan ‘estafet’, agar tak hanya saya yang bersyukur dengan kebaikan Allah pada saya, namun anak-anak ini juga.

Agar meskipun tak ditemani ibu, dan jarang membeli buku, mereka tetap bisa merasakan indahnya menuntut ilmu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar