Rabu, 22 Januari 2020

Hidup Tanpa TV

"Aku sedih ga bisa nonton TV," begitu kata Kakang  (5 tahun 3 bulan).


Ini hari ketiga Kakang tidak nonton TV karena TV rumah rusak.

Saya sedih sih lihat dia sedih. Tapi sebenarnya hati saya senang banget, karena hidup tanpa TV adalah lifestyle impian saya sejak jaman kuliah.

Buat saya pribadi, TV ga ada faedahnya. Satu-satunya manfaat yang masuk akal saya adalah suami bisa nonton bola di TV. Dah itu aja.

Sebenarnya Kakang cuma nonton Nick Junior aja sih. Semua tayangannya cocok untuk anak usianya dan mengandung edukasi juga. Misalnya Paw Patrol (kerjasama dan menolong orang lain), Max & Ruby (ngajarin akur sama saudara), Blaze & The Monster Machines (matematika dan fisika), Shimmer & Shine (petualangan) hingga .. apa ya itu yang temanya kafe gitu (belajar tentang makanan), dll. Tapi tetap aja, saya merasa lebih baik untuk Kakang mengurangi screen time.

Mungkin suatu hari nanti kalau ada rezeki, Engking/Enin/Abi Kakang akan membeli TV baru. Tapi sampai saat itu tiba, saya mau menikmati dulu indahnya rumah tanpa TV :D

pic source : https://www.bms.co.in/7-things-rich-people-do-differently-every-day/ 

Minggu, 05 Januari 2020

Tren Instagram Marketing 2020


Haiiii,
Happy new year!

Baru-baru ini saya baca artikel (berbahasa Inggris) bagus nih dari Later tentang tren Instagram Marketing di tahun 2020. Yang saya tulis di sini bukan terjemahan bebas ya, tapi lebih ke poin-poin penting dan catatan untuk saya sendiri. Sebagai owner OLshop yang jualan di Instagram, penting rasanya selalu update dengan kabar terbaru. Yuk cuuuuss!

SEMAKIN BANYAK KONTEN VIDEO

Kayaknya IG pengen ngambil sedikit “kue” milik Youtube nih dengan memperbolehkan user upload video dengan durasi yang lebih panjang di feed IG. Konten video juga akan disebarkan oleh algoritma IG lebih luas (mendapat reach lebih banyak) dibanding konten foto.

Untungnya, dengan teknologi pada smartphone yang makin kece fitur kameranya, hampir semua orang bisa memproduksi video sendiri. So, ayooo kita lebih banyak lagi bikin video untuk konten IG.

JUMLAH LIKES DISEMBUNYIKAN

Kalau di Indonesia saat ini kita masih bisa melihat berapa jumlah likes pada suatu foto. Kalau di US udah mulai disembunyikan tuh. Alasannya sih, mendukung kesehatan mental terutama pada remaja. Mungkin selama ini mereka menggunakan IG sebagai ‘hamba likes’, yang kalau fotonya dapat likes banyak mereka girang, sementara kalau sedikit, mereka stress.

IG berharap ke depannya user bisa posting foto lebih sering dan lebih bebas, ga perlu mikir apakah foto tsb udah perfect banget, ga perlu khawatir “gimana kalau ga ada yang like ya?”

IG MENJADI PLATFORM ECOMMERCE

IG sedang mengembangkan fitur Instagram Checkout, dimana followers bisa berbelanja langsung di akun Brand tanpa keluar dari aplikasi Instagram. Saat ini ada beberapa brand di US yang sudah bisa menggunakan fitur tsb. Tahun 2020 diramalkan akan semakin banyak lagi Brand yang menggunakan fitur ini. Bahkan bisa jadi semua OLshop bisa.

Btw sebenarnya saat ini udah ada loh layanan yang mirip IG Checkout tsb di Indonesia. Namanya belanja.bio. Coba deh googling.


IG MENJADI PLATFORM INFLUENCER MARKETING

Bersamaan dengan fitur Instagram Checkout, dikembangkan juga fitur Shopping From Creators. Dalam bayangan saya sih, cara kerja influencer mirip affiliate jadinya. Bedanya, dalam affiliate marketing, calon pembeli perlu meng-klik link. Sementara dalam influencer marketing, calon pembeli meng-klik foto yang diupload creator (selebgram/influencer) untuk kemudian diarahkan ke akun Brand tempat mereka bisa membeli produk yang dipromokan influencer. Jadi lebih smooth deh proses belanjanya. Asik ya!

Oh ya, semua orang berkesempatan jadi influencer loh selama feednya rapi dan engagementnya bagus. Kalau kemarin-kemarin yang banyak dicari brand adalah macro influencer (jutaan followers) dan micro influncer (puluhan-ratusan ribu followers), ke depan yang akan trending adalah nano influencer (ribuan followers). 


TIKTOK “MENJAJAH” INSTAGRAM

Merhatiin gak sih di IG sekarang semakin banyak konten Tiktok?

Buat yang belum tahu, Tiktok adalah aplikasi video sharing yang disertai musik. Konten dari Tiktok lebih real, ga pake filter, fokus ke isi bukan ke estetika. Ga perlu lokasi yang Instagramable buat bikin konten Tiktok.

Tiktok dulu sangat populer diantara remaja. Sekarang orang dewasa ikutan juga. Tiktok adalah aplikasi ketiga paling banyak didownload tahun 2019. Tiktok punya 500 juta pengguna aktif, sama dengan pengguna Instagram stories. So, diramalkan nanti IG stories akan semakin banyak memuat konten dari Tiktok.

Daaan you know what? IG lagi ngembangin aplikasi untuk menyaingi Tiktok. Namanya Reel. Saat ini lagi berusaha dipopulerkan di negara yang belum dimasuki Tiktok seperti Brazil dan Mexico. Seru nih!


IG MENJADI MICRO BLOG

Data menunjukkan dari tahun ke tahun user IG menulis caption semakin panjang. 

Orang tak hanya menikmati foto-foto indah melainkan juga kata-kata yang menarik.
Ini adalah kesempatan kita untuk bercerita lebih banyak di caption, sehingga followers  menghabiskan lebih banyak waktu di postingan kita. Ini mempengaruhi algoritma dan meningkatkan engagement.

Bagi brand owner, yang namanya brand voice akan semakin penting. Foto bagus saja tidak cukup. Followers ingin tahu dan ikut mendukung hal-hal yang dikampanyekan brand di balik produknya.

Dalam artikel tsb memuat tips ini : Next time sebelum posting di IG, pikirkan dulu mau nulis caption apa (mau menyampaikan pesan apa) baru cari foto yang cocok.

Tips lain,
Share tips di caption. Kalau pembaca klik ‘Save’ di postingan kita, ini juga terhitung engagement dan mempengaruhi algoritma loh. Jadi next time postingan kita akan lebih sering terlihat mereka.

Ada beberapa insight lain seperti akan semakin banyak iklan di IG Stories, fitur IGTV series, dan juga perkembangan filter Augmented Reality untuk shopping. Tapi saya belum bisa nulis lebih panjang lagi karena tangan pegel #jujur.

Bagaimana menurutmu? Apa resolusimu di Instagram tahun 2020 ini?


Kamis, 26 Desember 2019

POCKY

Apa makna Pocky bagimu?




Bagi saya, bisa makan Pocky adalah salah satu alasan untuk bersyukur.

Dulu, jangankan beli Pocky, menoleh ke arahnya saja tidak.
Ke minimarket hanya untuk beli diapers, susu, mie instant. Udah.

Boro-boro mengkhayal beli Pocky.
Kalau punya uang beberapa ribu, pikiran saya hanya..

"Mau beli lauk apa ya buat teman makan nasi nanti?"

So,
Kalau sekarang saya bisa menikmati Pocky,
semata-mata karena Allah berbaik hati memberi rezeki pada diri yang lemah ini.

Terimakasih Allah, untuk rezeki Pocky hari ini.


Sabtu, 21 Desember 2019

Kangen Ngeblog Seperti Dulu

Baru-baru ini saya menolak sebuah tawaran content placement (CP).

Itu adalah hal yang tidak lazim. Selama ini, bagi saya menerima CP adalah pekerjaan termudah di dunia (wong cuma copas + publish) dan dengan pemasukan lebih dari cukup buat beli mie ayam dan jus buah untuk sekeluarga.

Kenapa saya tolak?

Jawaban diplomatis : Tidak sesuai idealisme.

Jawaban pencitraan : Udah kebanyakan duit. 

Jumat, 06 Desember 2019

Pelajaran dari Hangusnya Nomor WA Business-ku 082215053080

Saya harap-harap cemas saat menyimak obrolan antara suami dengan CS Telkomsel via HPnya yang di-loud speaker. CS bilang kalau nomor 082215053080 sudah tidak terdata di sistem yang artinya nomor tsb telah hangus dan tidak bisa saya gunakan lagi.

Saya speechless.